Minggu, 28 Februari 2010

Sinopsis JUMONG Episode 3

Geum-wa bertemu dengan Yooh-wa di kota Hyeon-to-goom. Dia menemukannya menangis di hadapan Hae Mosu yang tertambat pada sebuah tiang, tubuhnya penuh dengan lumuran dengan darah. Geum-wa mendekati Yooh-wa, “Aku mengandung….Anak Hae Mosu.”, ucap Yooh-wa yang menangis sambil menundukkan wajahnya. Yooh-wa berniat mengambil aksi nekat dengan mendekati Hae Mosu untuk memberitahukan bahwa dia sedang mengandung anaknya. Namun, Geum-wa dengan sigap mencegahnya, Geum-wa membawanya menjauhi Hae Mosu dan mengajaknya kesebuah tempat di luar Hyeon-to-Goom. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka berdua di tempat itu.

Geum-wa sedang berjalan di pelataran istana dikawal oleh dua orang penjaga. Saat itu dia dilapori bahwa Jenderal Hae Mosu akan diserahkan kepada bangsa Han dalam waktu 3 hari. Geum-wa menghadap Ayahnya untuk meminta izin menyelamatkan Hae Mosu. “Biarkan aku memimpin tentara untuk misi penyelamatan.”, kata Geum-wa. “Aku tidak akan mengizinkanmu pergi. Karena kebodohan Hae Mosu, semua usaha kita telah dirusaknya! Aku tidak akan menyelamatkan orang seperti itu! Keluar!”, kata Ayah Geum-wa yang marah besar karena hal itu. Ketika Geum-wa keluar, duta besar memanggilnya, “Yang Mulia, aku harus berbicara denganmu.”, kata duta besar kepada Geum-wa. Mereka pergi ke salah satu ruangan di Istana tersebut. Duta besar meminta kepada Geum-wa untuk membatalkan niatannya untuk menyelamatkan Jenderal Hae Mosu. “Duta besar! Temanku, Hae Mosu, lebih penting bagiku melebihi nyawaku sendiri. Meskipun Yang mulia menolak untuk menyelamatkan Hae Mosu, Aku akan membawa sisa tentara DalMu untuk menyelamatkan Hae Mosu.”, kata Geum-wa. “Yang Mulia, penyebab keberhasilan pasukan Han dalam penangkapan Hae Mosu adalah karena dia masuk ke dalam perangkap. Orang yang mengatur kejatuhan Hae Mosu adalah… kau tau siapa?”, kata duta besar tanpa sedikit pun melihat lawan bicaranya. Geum-wa tidak menjawab pertanyaannya. “Itu adalah Yang Mulia”, ucap Duta besar kepada Geum-PDVD 002 wa, namun kali ini dia menatap matanya untuk menunjukan keseriusan perkataannya itu. “Ini semua dilakukan untuk menghindari konfrontasi langsung dengan bangsa Han. Yang Mulia membuat keputusan ini untuk melindungi Yang Mulia dan BuYeo. Yang Mulia, anda harus mengerti bahwa Yang Mulia menganggap kau penting dalam hidupnya. Jangan terburu-buru lagi.”, ucap duta besar kepada Geum-wa. Geum-wa marah kepada duta besar karena duta besar mengetahui semua ini namun tidak memberitahukan kepada Geum-wa. Geum-wa emosi melihat anggukan kepala duta besar untuk mengiyakan pertanyaannya. Dia berdiri langsung mengambil pedang dari meja disampingnya, dia langsung mengarahkannya ke leher duta besar. “Aku tidak takut mati, tapi aku percaya Yang Mulia sudah membuat keputusan yang benar. Yang Mulia…. Jika Hae Mosu selamat, kemudian Buyeo dan Yang Mulia akan berada dalam bahaya besar.”, ucap duta besar kepada Geum-wa. Duta besar sama sekali tidak bergerak sewaktu Geum-wa mengarahkan pedang ke lehernya, bahkan dia sama sekali tidak berkedip maupun takut terhadap ancaman itu. Melihat duta besar yang tetap bersikukuh dengan pendiriannya itu, Geum-wa melampiaskan emosinya dengan menebaskan pedangnya itu ke meja di hadapanya dan duta besar.

PDVD 004Hae Mosu di kawal pasukan berkuda dan juga pasukan invanteri lainnya dari bangsa Han. Hae mosu berada dalam sebuah kereta kuda, dia duduk didalamnya dengan mata di tutup dengan penutup mata. Ditengah perjalanan itu, pasukan Dalmu menyerang mereka. Geum-wa membebaskan Hae Mosu dari kereta itu, namun Hae Mosu menolaknya karena dia tidak ingin jatuh korban lagi karena dirinya. Namun Geum-wa memaksanya dan menaikkannya ke atas kuda. Geum-wa memukul keras tubuh kuda itu sehingga dia lari dengan keras, Geum-wa menyusul dibelakannya. Hae Mosu menunggangi kuda dalam kebutaan. Dia berada tepat di belakang Geum-wa, namun ketika mereka sampai di persimpangan mereka berdua terpisah, Geum-wa yang berada di depan mengambil jalur kanan, sedangkan Hae Mosu yang tidak dapat melihat dia berjalan lurus terus. Setelah dia berjalan cukup jauh, Geum-wa tersadar bahwa Hae Mosu tidak berada dibelakangnya. Geum-wa kembali lagi ke persimpangan itu, dia menengok ke kanan dan ke kiri. Tidak lama kemudian pasukan berkuda kerajaan Han terlihat sedang menyusul mereka, Geum-wa mencoba mengecoh mereka dengan mengambil arah sebelumnya dan membiarkan Hae Mosu terpisah dari dirinya. Pasukan berkuda yang melihat hal itu membagi dua kelompok mereka, dua orang pasukan berkuda mengikuti Geum-wa sedangkan sisanya mengambil jalan lurus seperti yang di ambil oleh Hae Mosu. Hae Mosu mengendarai kudanya dengan setengah sadar, tubuhnya terpelanting kesana-sini. Hae Mosu terpojok di tepian bukit yang di depannya adalah sebuah sungai. Pasukan berkuda yang ada di belakangnya, mengarahkan dan menembakan busur panahnya ke arah Hae Mosu, dan tepat menancap di dada kirinya. Hae Mosu terjatuh dari kudanya, namun dia masih dapat berdiri. Busur panah kedua di lepaskan dan kembali mengenainya. Geum-wa menyaksikan rekannya itu terpanah dari bawah bukit. Hae Mosu terus berjalan mundur tanpa sadar, dia terjatuh ke sungai di belakangnya.

Yooh-wa sedang berusaha keras untuk melahirkan. Yooh-wa melahirkan dengan selamat, dan itu adalah seorang anak laki-laki. Sementara itu Pendeta Tertinggi kerajaan, Yeo Mi-Eul baru saja mendapatkan sebuah penglihatan, yaitu sebuah naga/burung berkaki tiga yang terbang di atas matahari Buyeo. Yeo Mi-Eul meminta pelayannya untuk memberitahu duta besar mengenai masalah ini. Raja Bu Yeo sedang tidur, namun banyak pejabat istana berkumpul disana dan salah satu pelayan yang mengenakan pakaian berwarna biru menggunakan sebuah bulu dari burung sejenis merak dan mendekatkannya ke hidung sang Raja. Yeo Mi-Eul bertemu dengan duta besar untuk membicarakan fenomena yang baru saja dilihatnya itu. “Jendral Hae Mosu sudah pasti mati?”, tanya Yeo Mi-Eul kepada duta besar yang mengiyakan pertanyaan itu. “Apakah ada yang salah?”, tanya duta besar kepada Yeo Mi-Eul. “Meskipun legenda 3 burung telah menghilang dari matahari Buyeo,…”, ucap Yeo Mi-Eul. “Gejala alam yang menentukan masa depan Buyeo telah menghilang. Itu salah satu alasan untuk membuat perayaan!”, kata duta besar. “Bagaimanapun, legenda tiga burung itu tidak mati, sebaliknya makin mengangkasa dan bertambah kuat. Selama itu tidak mati, masih ada kemungkinan bahwa itu akan terbang kembali.”, ucap Yeo Mi-Eul. “Tidak, sepertinya tidak begitu. Hae mosu pasti sudah mati, tidak mungkin dia akan dapat terbang lagi.”, kata duta besar.

Sinopsis JUMONG Episode 2

Pasukan berkuda telah selesai menggeledah seluruh ruangan yang digunakan oleh Puteri Yooh-wa. Ketua pasukan berkuda bertanya kepada, Yooh-wa, “Apakah dia terluka di lengannya?”, tanya kepala pasukan berkuda itu. Yooh-wa hanya mengangguk, dan tidak terucap satu patah kata pun dari mulutnya, namun raut wajahnya terlihat sangat cemas. “Siapa nama pemuda itu?”, tanya ayahnya. Yooh-wa mengatakan bahwa pemuda itu bernama Lee Gan-sang. Ayahnya memarahinya karena dia tidak memberitahukan keberadaan pemuda itu sebelumnya. “Dia berasal dari mana?”, tanya pemimpin pasukan berkuda. Yoohwa-mengatakan bahwa dia berasal dari sungai Dong Jia. Pemimpin pasukan berkuda yakin bahwa itu adalah Hae Mosu, ayah Yooh-wa mencoba meyakinkan bahwa pria itu bukan lah Hae Mosu. Namun, pemimpin pasukan berkuda itu langsung menarik pedangnya dan mengarahkan ke tubuh ayah Yooh-wa. Beliau tewas, begitu pula dengan pengawalnya. Pemimpin pasukan berkuda memerintahkan untuk membunuh seluruh warga suku tersebut. Yooh-wa yang terikat dan dibawa oleh pasukan berkuda melihat pembantaian suku tersebut, dia menangis dan berteriak-teriak melihat hal itu.

Fajar tiba, desa suku putri Yooh-wa porak-poranda. Mayak tergeletak tidak beraturan, dan api yang berkobar pun sudah padam. Geum-wa dan pasukan Dalmu yang mencari Hae Mosu, melihat hal tersebut. Geum-wa mengendarai kudanya sambil melihat itu semua. Salah satu anggota pasukan Dalmu melaporkan kejadian itu kepada Geum-wa, bahwa itu semua adalah ulah pasukan berkuda. Desa itu di musnahkan karena, mereka terbukti menyembunyikan Hae Mosu. Mendengar hal itu, Geum-wa hanya terdiam, dan melihat pemandangan sekitar dari atas kudanya.

PDVD 017Hae Mosu kelelahan, dan minum air sungai. Tak jauh dari sana, rombongan pedagang sedang berjalan, ketua kelompok pedangan itu memutuskan untuk bermalam disana malam itu. Ketua kelompok itu, melihat Hae Mosu di tepi sungai. Dia menghampiri Hae Masu yang terlihat kelelahan dan minum di tepian sungai itu. Ketua kelompok itu juga melepaskan dahaganya dengan minum air yang sama dengan Hae Mosu, setelah menengaknya dia mengeluarkan suara seperti tidak minum selama beberapa hari. “Apakah kau seorang pengungsi?”, tanya pemimpin kelompok itu. Hae Mosu terdiam sesaat dan memandanginya, “Ya”, kata Hae Mosu. Ketua kelompok pedagang itu adalah Yeon Ta-bal, yang merupakan pemimpin dari suku GyehRuBu dari bangsa JulBoon, dia justru menawarkan Hae Mosu untuk makan bersama kelompoknya.

Perkemahan suku GyehRuBu telah selesai di dirikan. Seorang pelayan Yeon Ta-bal keluar dari tenda utama dan memanggil hae Mosu yang terdiam berdiri diantara kumpulan suku GyehRuBu yang lainnya. Pelayan itu meminta Hae Mosu untuk ikut dengannya, “yah….bahkan para pengangkut barang kami mendapatkan perlakuan yang baik dari ketua kami, tapi ketua sangat baik terutama kepada para pengungsi, kapan pun dia bertemu mereka – Aneh!”, kata pelayan itu. Dia mengatakan bahwa Hae Mosu beruntung. Di dalam tenda ada Yeon Ta-bal, istrinya dan seorang pelayan wanita. “Aku telah membawanya, tuanku”, kata pelayan itu. Yeon ta-bal memintanya untuk duduk sambil melihat istrinya. Mereka saling memperkenalkan diri, Hae Mosu memperkenalkan dirinya dengan nama Lee Gan-sang. Pelayan laki-laki yang tadi memanggil Hae Mosu, masuk lagi, kali ini dia membawa sebuah anggur yang mendekati sempurna. Dia menuangkannya ke gelas Yeon Ta-Bal yang sedang merangkul istrinya. Dia menawarkan anggur itu kepada Hae Mosu, dan menuangkannya. Yeon ta-bal, memotong paha ayam di depannya. Yeon ta-bal bertanya kepada istrinya kenapa dia tidak makan. “Saya kehilangan nafsu makan, mengingat apa yang terjadi dengan Suku Ha-baek.”, kata istrinya. Yeon Ta-bal mencoba menyakinkan istrinya dan membujuknya untuk makan. “Sebenarnya aku menyesal dan ikut prihatin dengan apa yang terjadi dengan pemimpin suku Ha Baek… Tapi, itu berarti saingan kelompok dagang kita berkurang satu!”, Yeon Ta-bal mengatakan itu semua ketika mulutnya masih penuh dengan daging yang dimakannya. Hae Mosu terdiam ketika Yeon Ta-bal mengatakan itu, dia penasaran. Hae Mosu bertanya kepada pelayan yang duduk disampingnya mengenai apa yang telah terjadi dengan suku Habaek. Pelayan itu awalnya menolak itu menjawabnya dengan memalingkan wajahnya dari Hae Mosu, “Para keparat itu… tidak, bagaimana bisa mereka membunuh rakyat…. mereka bahkan bukan tentara?”, pelayan itu menggelengkan kepalanya di akhir bicaranya. “Mereka membunuh seluruh penduduk desa Ha-Baek?”, tanya Hae Mosu dengan penuh rasa penasaran. Mendengar Hae Mosu menanyakan hal itu, Yeon Ta-bal bertanya kepada Hae Mosu, apakah dia mengenai seorang dari suku Ha-Baek? Hae mosu mengiyakan hal itu karena dia pernah tinggal di desa itu ketika dalam perjalanannya. “Mereka bilang, seseorang di desa itu telah menyembunyikan Hae Mosu, dan juga para prajurit berkuda memusnahkan desa itu sebagai sebuah hukuman.”, Yeon ta-bal mengucapkan itu semua sambil mengigit dan mengunyah ayam yang dari tadi ada di hadapannya itu. Hae mosu terdiam mendengar hal itu. Yeon ta-bal melihat ekspresi muka Hae Mosu yang tampak terkaget dan sedikit shok. Dia kembali bertanya kepada pelayan disampingnya mengenai warga yang selamat. “Mereka bilang, anak perempuan pemimpin suku Ha baek, Putri Yooh-wa adalah orang yang menyembunyikian Hae Mosu, jadi mereka membawanya ke kota Hyeon-to-Goon untuk diadili di depan umum.”, kata pelayan itu. Hae Mosu semakin terlihat shock mendengar hal itu, dia terdiam. Yeon ta-bal semakin curiga ketika melihat ekspresi muka Hae Mosu, setelah dia mendengar perkataan pelayannya itu.

PDVD 019Pasukan berkuda membawa puteri Yooh-wa dalam keadaan terikat dan berjalan kaki. Dia terjatuh, karena kelelahan. Salah satu anggota pasukan berkuda menariknya supaya dia bangun. Yooh-wa berjalan dengan tertatih tatih. Sementara itu, Hae Mosu, memikirkan sesuatu di pinggiran sungai berarus tenang, dia mengingat kembali perkataan Yooh-wa yang pernah diucapkannya, “Aku tau suku kami akan musnah. Tapi ketika aku berlari di jalan pegunungan, aku berfikir bahwa “itu” mungkin dia… Jantungku berdebar… aku berharap bahwa orang yang aku selamatkan adalah Hae Mosu.”

Geum-wa mengamati perjalanan pasukan berkuda dari atas bukit. Dia melihat puteri Yooh-wa yang berjalan tertatih-tatih, karena panas dan letih. Geum-wa melihat Yooh-wa, dan mengingatkannya kembali dengan kejadian di kota Hyeon-to-goom yang lalu, dia mengingat kembali perkataan yang di ucapkan oleh Yooh-wa.

Malam itu pasukan berkuda beristirahat dan berkemah di sebuah tanah lapang yang dikeliingi oleh tebing-tebing yang cukup curam. Yooh-wa di jaga oleh dua orang. Geum-wa mengamati situasi dari atas bukit, dan mencoba mencari keberadaan Yooh-wa. Begitu dia menemukannya, dia memberikan tanda kepada pasukan Dalmu. Mereka bersiap untuk membebaskan puteri Yooh-wa, Geum-wa sendiri ikut turun tangan dalam aksi ini. Dia yang membawa dan membebaskan Yooh-wa. Kuda telah disiapkan oleh salah satu Dalmu yang diambil dari salah satu kuda pasukan. Mengetahui hal itu, pasukan berkuda mencoba untuk mengejar mereka, namun karena posisi mereka yang dikelilingi tebing mereka kalah posisi karena, dari atas terdapat pasukan Dalmu yang lainnya menembakkan panah mereka.


source... kreatif web

Sabtu, 27 Februari 2010

Sinopsis JUMONG episode 1

Tahun 108 Sebelum Masehi, sebuah negara besar bernama GoJoSeon berusaha menyerang negara Han melewati Pulau Han Ban dan Gurun Liao Dong. Setelah 1 tahun berperang, negara GoJoSeon mengalami kekalahan. Setelah kekalahan itu, Han menduduki wilayah Nak Rang, Jin Beon, Lim Doon, dan Hyeon To City. Sebagian besar warga GoJoSeon terpaksa mengungsi dan melarikan diri dari Han, sebagian lagi bertahan dengan melakukan gerakan pemberontakan. Pemberontakan itu dipimpin oleh Hae Mo Su.
Drama dimulai dengan adanya pertandingan bela diri oleh pejabat dari Han. Pemenangnya akan dibawa ke ibukota Sheng En. Salah satu pria berhasil memenangkan pertandingan, namun tiba-tiba datang seorang pria lain yang menantang pemenang itu. Pemenang itu bersedia melawan pria misterius yang datang, dan bertarunglah mereka. Ternyata, pemenang dan pria misterius bekerja sama untuk membunuh pejabat Han. Mereka berhasil membunuh salah satu pejabat, namun gagal membunuh pejabat tertinggi, Tai Shou. Diantara penonton bersembunyi pasukan pria misterius, yang kemudian bergerak untuk membebaskan tawanan GoJoSeon yang ditahan oleh Han. Pasukan pembebas itu dinamakan Pasukan Da Mul. Pria misterius itu adalah pemimpin mereka, Dae Mo Su, dan pemenang itu adalah Geum Wa, putra mahkota dari BuYeo.
Saat penyerangan, Geum Wa terluka. Hae Mo Su membawanya ke persembunyian Pasukan Da Mul untuk mengobati lukanya. Geum Wa dan Hae Mo Su adalah sahabat karib. Mereka saling mendukung dan melengkapi, seperti saudara kandung.
Raja BuYeo saat itu adalah Hae Bu Ru, yang merupakan ayah dari Geum Wa. Raja menemui pendoa/peramal BuYeo bernama Ye Mi Eul.
Ye Mi Eul: Saat aku berdoa, aku menemukan sebuah pertanda aneh. Di tengah matahari BuYeo, muncul seekor Burung Berkaki Tiga. Burung itu muncul beberapa saat, namun kemudian menghilang. Burung Berkaki Dua melambangkan Yang Mulia Raja dan Putra Mahkota yang akan mewarisi tahta. Muncul satu kaki lagi, namun masih sulit diketahui maknanya.

Bangsawan dari Han memanggil para pemimpin klan untuk datang ke Hyeon To City untuk menghadiri pertemuan. Geum Wa datang sebagai perwakilan BuYeo. Di sana, ia bertemu dengan seorang gadis cantik, yang bisa menarik perhatiannya. Gadis itu adalah putri kepala klan HaBaek, Lady Yoo Hwa.
Undangan dari pejabat Han ini tidak lain merupakan bentuk ancaman pada klan-klan itu. Han memanggil pasukan berkuda mereka yang dinamakan Iron Army dan juga mengumpulkan para pengungsi GoJoSeon yang berhasil ditangkap disebuah lapangan.
Tai Shou berkata pada para pengungsi: Bagi mereka yang bisa menjatuhkan satu pasukan berkuda, akan dibebaskan.

Han memberi pedang pada para pengungsi. Mereka mengambil pedang itu dengan takut-takut dan berniat melawan sebisa mereka. Apa boleh dikata, Iron Army terlalu kuat dan tidak bisa ditebas dengan pedang biasa. Baju perang dan pedang Iron Army sangat luar biasa dan tidak terkalahkan. Para wakil klan memandang para pengungsi itu dengan kasihan, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Geum Wa hendak berdiri, namun perdana menteri BuYeo melarangnya. "Kendalikan dirimu, Yang Mulia!" katanya.
"Hentikan pembunuhan ini!" tiba-tiba Yoo Hwa berteriak. Ia berdiri dan menghadapi Tai Shou. "Bagaimana bisa Yang Mulia memerintahkan kebrutalan semacam ini? Apa dia pantas disebut Putra Langit?"
Taishou: Beraninya kau menghina Yang Mulia! Kurung dia!
Geum Wa memiliki seorang teman lama bernama Yang Jung, yang sekarang bekerja untuk Han. Ia meminta tolong padanya untuk membebaskan Lady Yoo Hwa. Yang Jung setuju.
Yoo Hwa: Terima kasih sudah menolongku.
Geum Wa: Aku merasa menyesal karena tidak berbuat apa-apa melihat kebrutalan itu. Aku akan mengantarmu pulang ke HaBaek.
Yoo Hwa: Tidak perlu. Aku membawa pengawal.

He Mo Su marah mengetahui bahwa Han membunuh para pengungsi. Ia meminta Geum Wa mempercepat pembuatan senjata di BuYeo untuk Pasukan Da Mul. Produksi pedang yang besar-besaraan membuat perdana menteri BuYeo menjadi curiga. Ia mendatangi Raja Bu Ru dan mengatakan kalau Burung Berkaki Tiga menyatakan adanya pahlawan baru di masyarakat BuYeo, yang tidak lain adalah Hae Mo Su. Untuk keselamatan BuYeo, ia menyarankan untuk membunuh Hae Mo Su. Geum Wa mendengar percakapan mereka dan berniat memperingatkan Hae Mo Su. Namun perdana menteri mengikutinya dan membunuh pembawa pesan untuk Hae Mo Su.
Geum Wa mengaku pada Raja Bu Ru bahwa ia bersahabat dekat dengan Hae Mo Su dan membantunya membebaskan para pengungsi.
Raja: Kita tidak siap untuk berperang. Jika kita berperang, nasib kita akan sama dengan GoJoSeon!
Geum Wa: Kita harus mencari sekutu untuk bertarung melawan Han. Hae Mo Su bisa menyatukan mereka.
Raja: Bagaimana kalau ia mengkhianati kita? Kenapa putra mahkota BuYeo harus tunduk padanya?
Geum Wa berlutut: Dia tidak akan mengkhianati kita. Bukan karena statusku sebagai putra mahkota, Melainkan sebagai sahabatnya. Aku percaya pada Hae Mo Su.
Raja: Apa kau berani mengorbankan nyawamu?
Geum Wa: Ya.
Raja: Jika kau harus memilih antara BuYeo atau Hae Mo Su, mana yang akan kau pilih?
Geum Wa: Aku memilih mati.
Hae Mo Su pergi berperang dengan pasukannya untuk menyelamatkan pengungsi. Namun pasukannya mengalami kekalahan karena kedatangan Iron Army. Hae Mo Su terkena lemparan tombak salah satu Iron Army dan jatuh ke sungai.

Iron Army mencari mayat Hae Mo Su. Mereka tidak akan percaya Hae Mo Su mati jika belum melihat mayatnya. Disisi lain, Pasukan Da Mul, yang dipimpin oleh Geum Wa, juga mencari Hae Mo Su.
Yoo Hwa duduk di tepi sungai. Tiba-tiba ia melihat mayat mengambang di sungai. Ia mendekati mayat itu. Ternyata itu bukan mayat, orang itu masih hidup. Ia menolong orang itu dan membawanya ke sebuah gubuk kecil untuk diobati. Orang itu adalah Hae Mo Su.
Hae Mo Su sadar. Yoo Hwa tidak tahu bahwa orang yang ditolongnya adalah Hae Mo Su. Yoo Hwa sangat mengagumi dan menyukai Hae Mo Su.

Hae Mo Su meminta tolong pada Yoo Hwa untuk memberinya kuda, namun Yoo Hwa meminta Hae Mo Su melakukan sesuatu untuknya sebagai balas budi sebelum ia pergi, yaitu berpura-pura menjadi laki-laki yang dicintai Yoo Hwa. Yoo Hwa dipaksa menikah dengan seseorang oleh ayahnya untuk urusan politik.
Saat berjalan-jalan dengan Hae Mo Su, anak buah ayah Yoo Hwa melihat mereka berdua dan mengira kalau mereka sedang berpacaran. Ia mendengar percakapan mereka tentang luka di lengan pria itu.

Malamnya, Iron Army datang ke wilayah HaBaek dan mencari seorang pria yang terluka lengannya. "Jika ada yang menemukannya, kami akan memberi hadiah. Jika ada yang menyembunyikannya, kami akan membunuh dan menghancurkan klan ini."
Anak buah ayah Yoo Hwa melaporkan tentang pria yang bersama dengan Yoo Hwa kepada kepala HaBaek. Mereka memutuskan untuk melaporkan hal ini pada Iron Army.
Yoo Hwa yang mendengar pengumumam Iron Army langsung berlari ke gubuk dan menemui Hae Mo Su.
Yoo Hwa: Apa kau Hae Mo Su?
Hae Mo Su: Bukan. Kau salah, Nona. Apa yang terjadi?
Yoo Hwa: Iron Army datang ke klan kami. Kalau kami menyembunyikan Hae Mo Su, mereka akan menghancurkan klan kami. Siapa namamu?
Hae Mo Su: Namaku Lee Gan Sang.
Yoo Hwa: Maaf sudah mengganggumu. Beristirahatlah.
Hae Mo Su memutuskan untuk pergi. Sebelum pergi, ia mendengar percakapan Yoo Hwa dengan pelayannya.
Pelayan: Apa yang kau pikirkan, Nona?
Yoo Hwa: Aku sangat berharap bahwa pria yang kuselamatkan itu adalah Hae Mo Su.
Pelayan: Kau bicara apa, Nona? Jika kita menyembunyikan Hae Mo Su, klan kita akan dihancurkan.
Yoo Hwa: Aku tahu klan kita akan dihancurkan. Tapi hatiku berdebar dan berharap bahwa aku menyelamatkan Hae Mo Su.
Yoo Hwa: Apa kau jatuh cinta padanya?

Iron Army sampai di gubuk tempat Yoo Hwa merawat Hae Mo Su. Iron Army tidak menemukannya karena Hae Mo Su sudah pergi.

JANGAN LUPA FOLLOW ya...

sinopsis drama, info music dan film korea

patrarush.blogspot.com