Senin, 03 Mei 2010

SINOPSIS CINDERELLA'S SISTER EPISODE 4


Sinopsis Cinderella's Sister Episode 4





"Kau gelandangan!" teriak Hyo Seon. "Kau jelek!"
Ki Hoon mendengar teriakan Hyo Seon dari luar.
"Ini rumahku!" teriak Hyo Seon. "Keluar sekarang juga!" Ia menghancurkan bunga pemberian Dong Soo dan melempar buku-buku Eun Jo. "Enyah dari hadapanku, Gelandangan!"
Eun Jo tidak bergerak sedikitpun.
"Kau tidak mau pergi?!" teriak Hyo Seon.
"Tidak." jawab Eun Jo singkat. "Kau yang pergi. Walaupun aku disini bukan karena aku ingin, tapi aku tidak akan pergi hanya karena kau menyuruhku."
Ki Hoon masuk ke dalam kamar.
"Jika aku merasa tidak tahan dengan rumah ini, aku akan keluar dengan kakiku sendiri." kata Eun Jo dingin. Ia keluar dari kamar. Hyo Seon mengejarnya.
Ki Hoon membaca pesan Dong Soo.
Dong Soo duduk sendirian di bangku di pinggir sungai. Ketika melihat Eun Jo, ia merapikan rambutnya. Tapi ketika melihat Hyo Seon, ia bergegas bersembunyi.
"Kakak, kau akan mati!" teriak Hyo Seon, berusaha menghentikan Eun Jo dengan menarik rambutnya. Hyo Seon tidak sengaja menarik rambut Eun Jo hingga putus segenggaman.
"Kau!" Eun Jo marah dan berkelahi dengan Hyo Seon.
"Inikah yang kau inginkan?" teriak Hyo Seon. "Aku tidak menyukaimu! Aku membencimu! Aku akan mengganggumu sampai mati!"
"Lepaskan aku!" teriak Eun Jo.
"Aku tidak mau!" balas Hyo Seon.
Akhirnya perkelahian mereka selesai.
"Kakak, kau berdarah!" seru Hyo Seon terkejut. "Apa yang harus kita lakukan?" tanyanya cemas.
Eun Jo juga melihat luka di pelipis Hyo Seon. Ia kemudian mendorong Hyo Seon sampai terjatuh di tanah. Hyo Seon menangis.
Eun Jo berjalan pergi dan melihat Dong Soo mencoba melarikan diri diam-diam.
"Kau!" panggil Eun Jo, berteriak. "Kau ingin berkencan bukan? Ayo berkencan kalau begitu!"

Hyo Seon pulang sambil menangis-nangis. Ia memeluk Kang Sook. "Ibu!" teriaknya.
"Ada apa?" tanya Kang Sook. "Jangan menangis! Jangan menangis!"
Eun Jo kembali ke kamar dan bisa mendengar suara ribut-ribut Hyo Seon. Ia merapikan kamar itu.
"Ibu, Kakak orang yang sangat jahat!" tangis Hyo Seon.
"Kemari!" seru Dae Sung pada putrinya.
"Aku tidak mau!" bantah Hyo Seon, memeluk erat Kang Sook.
Dae Sung kemudian menarik Hyo Seon dengan paksa. "Nenek, ambilkan tongkat bambu!" perintah Dae Sun.
"Ayah, aku bersalah!" tangis Hyo Seon ketakutan. "Ayah!"
Kang Sook mencari Eun Jo di dalam kamar dan memarahinya. Dae Sung ikut masuk ke kamar itu dan menyuruh Kang Sook keluar.
"Kau, ikut denganku." kata Dae Sung pada Eun Jo.
Dae Sung membawa Eun Jo dan Hyo Seon ke ruang baca.
"Sampai kalian berdua berbaikan, aku tidak akan mengizinkan Eun Jo pindah ke kamarnya." kata Dae Sung. Hyo Seon mencoba protes, tapi Dae Sung menambahkan. "Jika Eun Jo pindah, maka kalian akan mengunci diri kalian dalam kamar dan hubungan kalian akan menjadi semakin renggang. Dan untukku, aku akan merasa menyesal karena sudah menyatukan dua keluarga ini."
Ki Hoon masuk dan membawakan tongkat bambu yang diminta Dae Sung.
"Hyo Seon, kemari." panggil Dae Sung. Dengan takut-takut, Hyo Seon mendekati ayahnya. "Jika kau mengaku salah, katakan."
Dae Sung memukul betis Hyo Seon sekali.
Hyo Seon berteriak. "Ayah, maafkan aku! Aku tidak akan melakukannya lagi!"
"Kau mengaku salah?" tanya Dae Sung.
"Aku salah, Ayah." ujar Hyo Seon kesakitan.
"Eun Jo, maju kemari." panggil Dae Sung. "Jika kau mengaku salah, katakan."
Eun Jo tidak berkata apa-apa.
Dae Sung hendak memukul, namun ragu sejenak. Ia memukul Eun Jo. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali... Eun Jo tetap diam dan berdiri tegak, seakan tidak merasakan apapun. Eun Jo juga tidak mengaku salah.
"Ayah..." Hyo Seon merasa kasihan pada Eun Jo.
Eun Jo menahan rasa sakit. Matanya berkaca-kaca.
"Kau tidak merasa dirimu salah?" tanya Dae Sung.
"Ayah, kami salah." tangis Hyo Seon.
Dae Sung terus memukul betis Eun Jo. Ki Hoon kemudian menarik Eun Jo keluar. Eun Jo berjalan terseok-seok.
Ketika Kang Sook datang ke ruang baca itu, Eun Jo sudah tidak ada. Yang ada tinggal Hyo Seon yang hampir pingsan.

Ki Hoon membawa Eun Jo ke ruang penyimpanan. Ia mondar-mandir dengan cemas sementara Eun Jo hanya duduk diam.
"Biar kulihat." Ki Hoon ingin melihat luka pukul di kaki Eun Jo, tapi Eun Jo mengacuhkannya. "Aku akan mengambil obat. Terserah apakah kau mau memakainya atau tidak."
Ketika Ki Hoon sudah pergi, Eun Jo mendengarkan blup-blup anggur sedang difermentasi dan tertidur sejenak. Tiba-tiba ia terbangun ketika Ki Hoon sedang mengobati lukanya. Eun Jo tidak peduli dan terus mendengar suara itu.
"Jangan kena pukul lagi." kata Ki Hoon. "Jika kau terkena pukul, larilah. Kau sudah ahli dalam melarikan diri. Jika kau keras kepala seperti ini lagi, kau benar-benar akan mati. Eun Jo-ah... Kenapa kau tidak menjawabku?"
Eun Jo meneteskan air mata.
"Eun Jo-ah, ini sakit, bukan?" tanya Ki Hoon.
"Ya." jawab Eun Jo. Ki Hoon tersenyum.
Kang Sook merawat Hyo Seon yang sedang demam.
"Demamnya sudah turun." kata Kang Sook pada Dae Sung.
Dae Sung hanya diam. Ia keluar dari kamar Hyo Seon dan membawakan obat ke kamar Eun Jo. Saat itu Eun Jo sedang tidur. Dengan perlahan-lahan, Dae Sung mengobati kaki Eun Jo yang terluka.
Tanpa Dae Sung ketahui, Eun Jo terbangun dari tidurnya, namun diam saja dan berpura-pura masih tidur.

Keesokkan harinya, Eun Jo menemui Ki Hoon.
"Siapa gadis yang bersama denganmu kemarin di pinggir sungai?" tanya Eun Jo.
Ki Hoon bingung. "Apa?"
"Aku benci harus mengulang dua kali." kata Eun Jo. "Siapa gadis yang bersama denganmu kemarin di pinggir sungai?"
Ki Hoon tersenyum.
"Apa? Apa yang ingin kau curi dariku?" tanya Eun Jo. melihat senyum Ki Hoon.
"Kau datang pagi-pagi hanya untuk menanyakan itu?" tanya Ki Hoon. "Kau penasaran sampai tidak bisa tidur, bukan?"
Eun Jo memandang Ki Hoon tajam.
Ki Hoon masuk ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu. Ia kemudian keluar dan mengajak Eun Jo keruang baca untuk mendengarkan musik dari disk yang dibawanya. Ki Hoon rupanya membawa barang-barang yang menjadi kesukaannya, termasuk kesukaannya akan lukisan karya Sohn Sang Gi.
"Siapa gadis itu?" tanya Eun Jo, tidak memedulikan ocehan Ki Hoon soal hobbynya.
"Siapa? Dia adik temanku. Aku menitipkan barang-barang ini padanya ketika aku meninggalkan asrama." jawab Ki Hoon. "Temanku sedang ikut wajib militer, jadi adiknya yang datang. Kau senang sekarang?"
"Ya sudah." kata Eun Jo seraya berjalan pergi.
"Apa benar kau akan berkencan dengan Dong Soo?" tanya Ki Hoon, tapi Eun Jo tidak menjawab.

"Berpura-puralah kita berbaikan." kata Hyo Seon pada Eun Jo ketika Eun Jo masuk untuk mengambil pakaiannya. "Jika kita berpura-pura, ayah akan mengizinkanmu pindah ke kamarmu."
"Aku akan melakukannya." kata Eun Jo. Ia membuka celana panjangnya.
Hyo Seon terkejut melihat luka di kaki Eun Jo. Ia mengambil kaus kaki baru dan menyerahkannya pada Eun Jo. Eun Jo membuang kaus kaki itu ke lantai dengan kasar.

Ki Hoon mengantar Kang Sook pergi ke suatu tempat.
Dae Sung, Eun Jo dan Hyo Seon makan bersama.
"Kakak, maafkan aku, aku salah." kata Hyo Seon.
Eun Jo diam. Hyo Seon menyenggol kakinya di bawah meja.
"Tidak, aku yang salah." ujar Eun Jo.

Ki Hoon kembali ke rumah karena Kang Sook bersikeras menolak untuk diantar. Ia hanya mau diantar sampai stasiun kereta.
Dae Sung menelepon seseorang. Ia mengatakan pada orang itu bahwa jika orang itu ingin mengirim surat padanya, orang itu bisa menitipkannya pada Kang Sook. Namun orang di telepon mengatakan bahwa Kang Sook tidak datang ke tempatnya.

Ki Hoon belajar bahasa Spanyol dengan keras agar bisa mengajari Eun Jo.
Tiba-tiba paman Hyo Seon datang dan mengatakan kalau seseorang ingin bertemu dengan Ki Hoon. Orang itu adalah kakak Ki Hoon, Ki Tae. Ki Tae mengajak Ki Hoon ke suatu tempat.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Ki Hoon.
Ki Tae menghentikan laju mobilnya. "Bagaimana jika aku memiliki sebuah taman bermain?" tanyanya. "Aku tidak mengerti kenapa ibu dan Kak Ki Jung mencoba membunuhku setiap kali aku membicarakan ide ini. Aku akan membangun taman bermain yang lebih hebat daripada Disneyland."

Eun Jo pergi ke perpustakaan dan mencari sebuah buku mengenai lukisan. Ia melihat-lihat dan mempelajari setiap lukisan. Judul kumpulan lukisan itu adalah 'Ayah dan Putrinya'.

Malamnya, Kang Sook pulang ke rumah. Dae Sung sudah menunggunya.
"Darimana kau?' tanya Dae Sung. "Kau tidak mengangkat teleponku seharian."
"Ada sesuatu yang harus kulakukan." jawab Kang Sook, kemudian masuk ke dalam rumah.
Kang Sook mulai menggunakan air matanya lagi untuk meluluhkan Dae Sung. Kang Sook berkata bahwa ia berbohong dengan mengatakan pada Dae Sung bahwa ia pergi ke kuil. Ia menutupi kebohongan dengan kebohongan lain. Kang Sook bilang bahwa ia pergi untuk mencari obat tradisional untuk Eun Jo.
Trik Kang Sook berhasil. Dae Sung meminta maaf padanya.
Ki Hoon dibawa ke sebuah kamar hotel. Disana sudah ada seorang pengacara dan istri ayahnya. Mereka sudah menyiapkan dokumen dan berkas yang menyangkut warisan.
"Aku tahu kau tidak akan mau menandatangai ini tanpa syarat." kata wanita itu. "Apa syarat yang kau ajukan?"
"Maukah kau memberikan setelah dari Perusahaan Hong Joo Ga?" tanya Ki Hoon.
Wanita itu diam sejenak. "Kau pasti melihat keamanan di luar, bukan? Jadi kau sudah tahu apa yang akan terjadi jika kau menyebabkan keributan. Aku akan menambah satu nol lagi dalam jumlah uang yang kau inginkan." Wanita itu tertawa mengejek. "Setengah dari Perusahaan Hong Joo Ga? Ibumu mungkin mengajarkan itu padamu. Tapi seseorang harus sadar posisinya."
"Jangan pernah berpikir untuk bicara mengenai ibuku dengan mulutmu." kata Ki Hoon marah.
"Kau ingin menutup mulut seorang ratu? Jika bukan untuk ibumu..."
"Kubilang jangan sebut ibuku!" seru Ki Hoon. Ia berpaling pada pria yang didik di sebelah istri ayahnya. "Kau pengacaranya, bukan?" Ki Hoon kemudian duduk di hadapan mereka. "Tolong dicatat apa yang kukatakan ini. Jika kau menyiapkan pertemuan seperti ini, kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk membawa pengacaraku juga? Dengan kata lain, jika kau ingin aku menandatangani surat perjanjian dengan cara seperti ini, maka aku tidak akan pernah menandatanganinya."
Para bodyguard wanita itu masuk.
Ki Hoon tertawa. "Jika kau ingin menggunakan kekerasan, lebih baik jika kau langsung saja membuatku cacat atau bahkan membunuhku. Karena jika aku bisa keluar dari sini hidup-hidup, aku akan pergi ke kantor surat kabar dan stasiun berita."
"Apa kau mengancamku?" tanya wanita itu.
Ki Hoon berjalan keluar. Wanita itu terpaksa membiarkannya pergi.
Ki Hoon kemudian menelepon ayahnya. "Apa yang bisa kubantu?" tanyanya.

Pihak Dae Sung melakukan upacara ritual, berdoa untuk keberhasilan usahanya, baik usaha anggur ataupun usaha beras balok yang dibuatnya.

Eun Jo menduduki peringkat pertama dalam kompetisi akademik sekolah, jadi ia akan mewakili sekolah dalam pertemuan daerah yang akan diadakan bulan depan.
Di tempat lain, Hyo Seon sangat sedih dan kecewa karena gagal menjadi juara menari.

Eun Jo pulang ke rumah dengan senang. Sesampainya disana, ia melihat orang-orang rumah sedang menonton Hyo Seon menari. Mereka bertepuk tangan dengan ramai, termasuk Ki Hoon.
Eun Jo menjadi sedih dan kecewa. "Aku tidak peduli." katanya dalam hati. "Karena aku hanya ingin mendengar pujian dari satu orang saja."
Eun Jo mendekati Ki Hoon dan mengisyaratkan agar ia pergi ke ruang penyimpanan.

Eun Jo memamerkan sertifikat penghargaan pada Ki Hoon.
Ki Hoon tertawa. "Kau sangat hebat Eun Jo-ah." pujinya seraya mengacak-acak rambut Eun Jo. "Kau sangat pintar!"
Dengan dingin, Eun Jo mengambil kembali sertifikatnya dan berjalan keluar. Ki Hoon mengejarnya. "Aku akan memberimu hadiah. Ikutlah denganku."

Ki Hoon mengajak Eun Jo ke kamarnya dan memberikan sebuah pena. Pena itu adalah pena kesayangannya.
"Pikirkan aku setiap kali kau memakainya." kata Ki Hoon.
Tanpa mengatakan apa-apa, Eun Jo bangkit dan membuka pintu untuk keluar. Di balik pintu, Hyo Seon berdiri diam.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Hyo Seon pada Ki Hoon. "Aku juga ikut resital balet. Kenapa kau memberinya hadiah tapi tidak memberiku juga? Kakak, apa kau lupa? Kau lupa kau milik siapa?"
Hyo Seon menangis dan berjalan pergi.

Pagi itu, Eun Jo keluar rumah. Ia bertemu dengan Dae Sung yang sedang menyiram bunga.
"Ada anggur yang tidak terfermentasi." kata Eun Jo dengan kaku. "Barisan sebelah kanan, botol kedua dari belakang."
"Kau tahu? Bagaimana?" tanya Dae Sun.
"Dari dalam botol tidak ada suara." jawab Eun Jo.
Hyo Seon kembali ke rumah.
"Apakah Ki Hoon sudah pergi?" tanya Dae Sung pada Hyo Seon.
"Ya." jawab Hyo Seon sedih.
Eun Jo terkejut. Ia bergegas mengejar Hyo Seon ke kamarnya untuk meminta penjelasan.

"Kemana dia pergi?" tanya Eun Jo.
"Siapa?" tanya Hyo Seon. Tiba-tiba Dae Sung masuk ke kamar itu. Hyo Seon terpaksa memberitahu Eun Jo. "Kak Ki Hoon, ikut wajib militer." jawabnya.
Eun Jo tidak bisa percaya. Ia mencari Ki Hoon kemana-mana, tapi tidak bisa menemukannya.
Hyo Seon menangis. Ia memandang sebuah surat. Ki Hoon menitipkan surat itu padanya untuk diberikan pada Eun Jo.
Hyo Seon membuka surat itu dan membacanya. Surat tersebut tertulis dalam bahasa Spanyol.
"Aku pergi tanpa memberitahumu karena aku ragu aku bisa pergi jika melihatmu." kata Ki Hoon dalam suratnya. "Sekarang, aku pergi sendirian, tapi suatu saat nanti aku akan membawamu ke Ushuaia, ke bulan dan ke bintang. Jangan melarikan diri. Jangan pergi kemanapun dan tunggu aku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi."

Eun Jo mencari Ki Hoon di stasiun bus. Disaat yang sama, Ki Hoon akan naik ke kereta di stasiun kereta.
"Apakah kau akan meraihku?" tanya Ki Hoon dalam hati. "Jika kau meraihku, aku akan berhenti saat ini juga. Raih aku sebelum aku naik ke kereta ini."
Ki Hoon menunggu sampai detik terakhir sebelum naik ke kereta, tapi Eun Jo tidak datang.
Eun Jo berdiri di tepi sungai dan menangis.
"Aku tidak pernah memanggil seseorang dengan panggilan apapun." pikir Eun Jo. "Eun Jo-ah... Eun Jo-ah.." Eun Jo terus-menerus memanggil namanya sendiri sambil menangis.
8 tahun kemudian.
Eun Jo mempresentasikan bisnis keluarganya di depan para pengusaha. Ia telah tumbuh menjadi seorang wanita yang dewasa, cerdas dan penuh percaya diri.
Sepulang dari presentasi, Eun Jo melihat ada pameran lukisan karya Sohn Sang Gi. Ia memutuskan untuk berkunjung.
"Selain yang itu, Kak Ki Hoon juga suka yang ini." terdengar suara seorang wanita, Hyo Seon. "Itu mengingatkannya pada ibunya yang meninggal di rumah sakit. Dia bisa memandang lukisan ini selama 10 menit tanpa menoleh."
"Kenapa kau datang kemari?" tanya Eun Jo.
"Kak Ki Hoon mengatakan padaku bahwa disini ada pameran lukisan Sohn Sang Gi, jadi aku datang." jawab Hyo Seon.
"Apa?"
"Kau tidak tahu?" tanya Hyo Seon. "Kami sedang berpacaran saat ini. Kak Ki Hoon... dan aku."


source : http://princess-chocolates.blogspot.com

SINOPSIS CINDERELLA'S SISTER EPISODE 2

Sinopsis Cinderella's Sister Episode 2



Dengan ceria, Hyo Seon mengantar Eun Jo menuju kamarnya.
"Kakak, kamarmu masih dalam perbaikan." kata Hyo Seon. "Jadi kau bisa tinggal bersamaku di kamarku selama beberapa hari. Ayo, lewat sini."
Hyo Seon duduk di tempat tidur dan meminta Eun Jo duduk si sampingnya.
Dengan sinis, Eun Jo duduk di kursi.
"Sejak bertemu di kereta, ku tidak menyangka kita bisa seperti ini." kata Hyo Seon. "Bukankah ini luar biasa?" Hyo Seon terus mengoceh dengan bersemangat.
Eun Jo memotong kata-katanya. "Dimana aku bisa mandi?" tanyanya.
"Apa?"
"Aku ingin mandi." kata Eun Jo dingin.
"Oh." Hyo Seon menunjuk kamar mandi. "Disana." Hyo Seon membuka salah satu lemari. "Aku sengaja mengosongkan lemari ini agar kau bisa meletakkan barang-barangmu disini."
Ia mengeluarkan sebuah pakaian dari lemari itu. "Aku membeli ini untukmu. Cantik, bukan?"
"Apakah kau selalu banyak bicara?" tanya Eun Jo sinis, tanpa menoleh ke arah Hyo Seon.
"Jadi kau tahu?" tanya Hyo Seon. "Aku saaaaangaaat banyak bicara." Ia tertawa.
Tanpa mendengar kata-kata Hyo Seon lagi, Eun Jo keluar dan menutup pintu dengan kasar.
Eun Jo masuk ke kamar mandi. Kamar mandi itu sangat luas dan lucu. Hyo Seon sudah menyiapkan segalanya untuk Eun Jo.
"Sikat gigi yang merah milikmu dan yang biru milikku!" teriak Hyo Seon dari luar.
Eun Jo sedikit kebingungan menggunakan berbagai peralatan di kamar mandi itu. Ia bingung bagaimana caranya membuka kran air.
"Letakkan saja tanganmu di bawa kran air!" teriak Hyo Seon dari luar. "Airnya akan keluar sendiri!"
Ketika malam hari, Eun Jo mencoba tidur, tapi Hyo Seon terus menerus mengoceh menceritakan segala sesuatu mengenai hidupnya. Eun Jo bangkit dari tidurnya dengan kesal.
"Cerita hidupmu sangat membosankan." kata Eun Jo kejam. "Dan aku tidak ingin mendengarnya."
"Kalau begitu, kau ingin kita langsung melompat pada cerita saat aku berumur 10 tahun?" tanya Hyo Seon polos.
Eun Jo kesal dan berdiri, hendak pergi keluar.
"Kakak, kau mau kemana?" tanya Hyo Seon. "Ajak aku juga."
Eun Jo menoleh ke arah Hyo Seon dengan pandangan menusuk dan sangat menyeramkan.
"Atau... tidak usah." ujar Hyo Seon ciut.
Eun Jo pergi dan membanting pintu.

Eun Jo melihat-lihat rumah Hyo Seon yang sangat besar.
"Ah, aku senang kau keluar." terdengar suara seorang pria. Eun Jo menoleh dan melihan Ki Hoon sedang minum seorang diri. "Aku sedikit bosan." kata Ki Hoon. "Kau mau minum? Saat disini tidak ada tamu, bagian rumah ini menjadi sangat sepi." Ki Hoon mengayunkan tangannya, menyuruh Eun Jo datang.
"Apa kau ingin mencuri sesuatu dariku?" tanya Eun Jo dingin.
"Mencuri?" tanya Ki Hoon bingung, tetap tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Eun Jo. "Aku tidak memiliki sesuatu yang bisa dicuri, jadi jangan tersenyum."
Ki Hoon bingung. "Apakah jika orang ingin mencuri maka ia tersenyum?" tanyanya. "Aku tidak pernah mendengar sesuatu yang melantur seperti itu dalam hidupku. Kau akan tersenyum jika ada sesuatu yang lucu atau menyenangkan atau menggembirakan atau bagus. Ada banyak alasan untuk tersenyum."
"Lalu untuk apa kau tersenyum saat ini?" tanya Eun Jo dingin. "Apakah ada yang lucu atau menyenangkan atau menggembirakan?"
"Apakah saat ini... aku tersenyum?" tanya Ki Hoon.
Tanpa menjawab, Eun Jo berjalan pergi. Belum jauh ia berjalan, Eun Jo menoleh kembali ke arah Ki Hoon, mendengar Ki Hoon menyanyikan sebuah lagu berbahasa asing.

Goo Dae Sung dan Song Kang Sook menikah.
Eun Jo dan Hyo Seon menjadi saudara tiri.
Eun Jo dan Hyo Seon bersekolah di sekolah dan kelas yang sama. Ketika teman-teman sekelasnya ingin berkenalan, Eun Jo bersikap dingin pada mereka.
"Kami harus memanggilmu apa?" tanya salah seorang teman sekelasnya. "Namamu atau kakak?"
Eun Jo memandang gadis itu tajam. "Jangan panggil aku." jawabnya, kemudian berjalan pergi.
"Ada apa dengannya?" tanya gadis itu pada Hyo Seon. "Aku hanya ingin bersikap baik karena ia kakakmu."
Hyo Seon tersenyum, mencoba merayu teman-temannya agar tidak marah.
Ketika Ki Hoon sedang mengemudikan mobil, seorang pria mengendarai sepeda motor mengikutinya dari belakang. Setelah beberapa saat mengikuti, pria itu menyalipnya, lalu melajukan motornya berlawanan arah dengan Ki Hoon. Untuk mencegah tabrakan, Ki Hoon menginjak rem dalam-dalam.
"Apa kau takut?" tanya pria itu. "Kau akan bertanya, 'Kenapa kau disini?' bukan?" Hong Ki Tae ada disini karena..."
Pria itu tiba-tiba memukul Ki Hoon sampai jatuh tersungkur di aspal.
"Berapa kau akan berbagi keuntungan dengan fotografer ini?" tanya Ki Tae. ia melempar beberapa lembar foto ke arah Ki Hoon. "50-50? 60-40? Atau 70-30? Ki Hoon, pikiranmu bekerja sangat cepat jika menyangkut hal seperti ini. Jika kau mengirim foto ini ke media, orang-orang akan bicara. Putra pemimpin Hong Han Seok, Ki Hoon. Dia diperlakukan dengan kejam oleh ayah dan kakaknya. Pintar. Kau sangat pintar."
Ki Tae melemparkan sejumlah uang pada Ki Hoon.
Ki Hoon bangkit dan membersihkan darah di sudut bibirnya. Ia tertawa. "Senang bertemu denganmu, Kak Ki Tae." sapanya. "Apakah kak Ki Jung baik-baik saja?"
"Aku menyuruhmu bicara tanpa menggunakan panggilan keluarga." kata Ki Tae, melarang Ki Hoon memanggilnya Kakak.
"Kelihatannya kau melakukan perjanjian dengan orang-orang tidak benar." kata Ki Hoon. "Dan kelihatannya kau mempergunakan situasi ini karena kau membawa foto-foto itu kemari. Jadi sekarang masalahnya sudah selesai. Karena kau tidak ingin dipanggil Kakak... Hong Ki Tae, kau bajingan." Ki Hoon berkata tenang. "Tidak ada alasan kenapa aku harus menerima pukulanmu!" Ki Hoon balas memukul Ki Tae. "Kalian memintaku untuk menjaga jarak, aku melakukannya. Kalian memintaku diam, aku melakukannya. Aku bertemu dengan seorang paman yang baik dan aku berusaha menjadi orang baik. Jadi kalian, jangan mendekati aku lagi, walaupun hanya sedetik. Mengerti?!"

Hyo Seon mengajak Eun Jo ikut dengannya dan Ki Hoon untuk menjemput kedua orang tua mereka yang baru saja pulang dari bulan madu. Dengan acuh, Eun Jo berjalan melewati mereka.
"Kakak!" panggil Hyo Seon, meraih tangan Eun Jo. Eun Jo menghempaskan tangan Hyo Seon dengan kasar, kemudian berjalan pergi.
"Kita pergi saja." kata Ki Hoon.
"Tapi aku ingin pergi bersama kakak." kata Hyo Seon.
"Dia tidak mau mendengarkan siapapun." kata Ki Hoon, memandang Eun Jo berjalan pergi.
Ia meminta Hyo Seon masuk ke mobil, lalu mengemudikan mobil dan pergi.
Hari itu, rumah sangat ramai. Banyak sekali tetua-tetua dari keluarga yang datang. Kang Sook memberi hormat pada banyak tetua.
"Bagaimana keberuntunganmu?" tanya seorang nenek ketika Kang Sook menghormatinya.
"Nenek itu tadinya adalah peramal." kata Hyo Seon, bercerita pada Eun Jo. "Tapi sekarang ia adalah pastur di gereja."
Nenek itu tiba-tiba melihat tajam pada Eun Jo.
"Sepertinya ia melihat sesuatu pada dirimu." kata Hyo Seon.
Eun Jo dan si nenek saling memandang selama beberapa saat.
Ki Hoon melihat ke arah Hyo Seon dan Eun Jo sambil tersenyum tipis. Hyo Seon melambaikan tangan padanya, tapi Ki Hoon tidak melihat. Hyo Seon sadar bahwa Ki Hoon tidak melihat ke arahnya melainkan melihat Eun Jo.
Si Nenek terus melihat Eun Jo, kemudian tersenyum. Semua tetua melongo. Eun Jo berjalan pergi.
Kang Sook mengeluh karena ia harus memberi hormat pada banyak tetua. Ia pergi ke kamarnya dan memijat kakinya yang sakit. Tiba-tiba Dae Sung masuk. Ia canggung sesaat, namun akhirnya membantu Kang Sook memijati kakinya.
Mendadak Hyo Seon membuka pintu kamar, membuat Dae Sung kaget dan tanpa sengaja mendorong Kang Sook hingga jatuh di tempat tidur. Karena merasa tidak enak, Dae Sung bergegas berjalan pergi.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Hyo Seon, membantu Kang Sook bangkit dari tidurnya.
Dengan kasar, Kang Sook menghempaskan tangan Hyo Seon. Hyo Seon terpukul.
"Seharusnya kau menngetuk pintu dulu sebelum masuk." kata Kang Sook, menahan rasa kesalnya.
"Oh.." Hyo Seon tertawa. "Aku tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Aku... memiliki tata krama yang buruk." Hyo Seon berkata sedih.
Eun Jo membawa tas sekolahnya dan mencari ruangan yang sepi untuk belajar. Ia membolak-balikkan buku dan berusaha mengerjakan. Eun Jo menarik napas dalam.
"Apa yang kau katakan?" terdengar suara Dae Sung.
"Jangan mengisi surat pernikahan sebelum aku memberitahu padamu." kata si Nenek. "Ada sesuatu pada dirinya. Dia tidak pantas untuk keluarga ini. Masalah terburuk yang bisa menimpa adalah keluarga kita mungkin akan hancur. Sangat menakutkan."
Eun Jo membuka jendela sedikit, ingin mengintip siapa yang bicara.
"Semua tertulis jelas di wajahnya." kata Nenek. "Dia akan membuatmu pusing. Tahanlah dulu surat pernikahan sampai aku bisa membuang kesialannya. Mengerti?"
"Jangan berkata seperti itu, Bibi." kata Dae Sung marah. "Dia dan putrinya, sekarang adalah keluargaku. Jangan bicara buruk tentang mereka."
Ki Hoon mencari Eun Jo dan akhirnya bisa menemukannya. Dengan kesal, Eun Jo keluar dari ruangan itu dan berjalan pergi.
"Apakah kau mau aku menujukkan tempat untuk bersembunyi?" tanya Ki Hoon menawarkan.
Eun Jo tetap berjalan. Tiba-tiba beberapa orang anggota keluarga berjalan melewatinya. Eun Jo berjalan berbalik. "Dimana?" tanyanya pada Ki Hoon.
Ki Hoon tersenyum.

Di tempat acara keluarga, Hyo Seon mencari Eun Jo dan Ki Hoon, tapi tidak bisa menemukan mereka.
Ki Hoon membawa Eun Jo ke tempat penyimpanan arak. Hyo Seon melihat mereka dari jendela dan meneteskan air mata.

"Kenapa mereka melakukan itu?" tanya Hyo Seon pada Eun Jo. "Jika aku mengirim 11 pesan, bukankah seharusnya mereka membalas paling tidak 1 balasan? Ini tidak seperti aku tidak mengenal seperti apa Hong Dong Su. Tapi kenapa ia tidak memedulikan pesanku?"
"Hei!" panggil Eun Jo kesal. "Kau mengirimkan pesan tidak penting padaku paling tidak 10 kali sehari. Apakah aku pernah membalas? Kau tidak tahu kenapa?"
Hyo Seon diam sejenak. "Itu karena... aku bertemu denganmu setiap hari." jawabnya.
"Lupakan saja." kata Eun Jo kesal.
Tiba-tiba Hyo Seon bersembunyi di belakang Eun Jo.
"Apa yang kau lakukan?!" seru Eun Jo marah.
"Itu Dong Su." kata Hyo Seon.
Eun Jo berjalan cepat mengejar Dong Su. "Apakah kau Dong Su?" tanyanya.
"Ya."
"Kau kenal dia bukan?" tanya Eun Jo lagi. "Kenapa kau tidak membalas pesannya? Aku lelah mendengar ocehannya. Jika kau tidak menyukainya, katakan padanya agar dia diam. Mengerti?"

Setelah berlatih balet, Hyo Seon berganti pakaian. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. "Ah, Dong Su!" serunya.
Hyo Seon pulang ke rumah dengan murung. Melihat sikap Hyo Seon yang tidak ceria seperti biasanya membuat Kang Sook dan Dae Sung bergegas melihatnya.
"Kenapa?" tanya Kang Sook. "Kenapa kau menangis?"
"Aku mendapat pesan dari Dong Su." kata Hyo Seon terisak.
"Aku pulang." Eun Jo masuk ke rumah.
"Selamat datang." sambut Dae Sung.
"Kakak, terima kasih." ujar Hyo Seon. "Dong Su membalas pesanku berkat kau."
Eun Jo tidak menoleh dan terus berjalan masuk ke rumah.
Hyo Seon menangis. "Dia mengatakan padaku agar tidak lagi mengirim pesan padanya." tangis Hyo Seon. "
Dae Sung tersenyum. Kang Sook memeluk Hyo Seon dan berusaha menenangkan. Eun Jo menatap mereka dengan pandangan sinis. Dae Sung melihat pandangan Eun Jo itu.
Malam itu, Dae Sung mengajak Eun Jo berbincang. Ketika Dae Sung memintanya duduk di sampingnya, Eun Jo menolak. Dae Sung berdiri di samping Eun Jo, tapi Eun Jo malah duduk. Ia duduk jauh dari Dae Sung.
"Aku bertemu dengan gurumu hari ini." kata Dae Sung. "Kudengar kau belajar dengan sangat baik."
"Sedikit." ujar Eun Jo datar.
"Kupikir akan cukup sulit bagimu untuk mengejar karena kau tidak pernah bersekolah." tambah Dae Sung. "Sepertinya kau pintar."
"Aku pintar."
"Apakah ada hal lain yang ingin kau lakukan selain bersekolah?" tanya Dae Sung. "Apakah kau ingin mengambil kelas menari seperti Hyo Seon?"
"Tidak."
"Kalau begitu, apa kau ingin belajar piano atau violin?" tanya Dae Sung lagi.
"Tidak." jawab Eun Jo dingin. "Kau bisa memberiku uang jika kau mau."
"Apa cita-citamu jika sudah dewasa?"
"Apa maksudmu?" tanya Eun Jo.
"Jika kau butuh sesuatu, katakan saja padaku." kata Dae Sung. "Jika kau merencanakan sesuatu untuk mesa depan dan butuh bantuan, kau bisa datang dan bicara padaku. Aku akan melakukan apa yang kubisa untuk menolongmu. Kau bisa bergantung padaku."
Di sekolah, guru matematika meminta Eun Jo mengerjakan soal, tapi Eun Jo menolak.
"Aku tidak mau." jawab Eun Jo.
Guru matematika itu kesal setengah mati dan berjalan keluar.
"Kakak, kau luar biasa." ujar Hyo Seon.

Eun Jo datang ke tempat Dae Sung bekerja dan meminta Dae Sung mencarikan guru matematika.
"Aku lemah dalam matematika." katanya. "Aku ingin guru tambahan matematika. Bikan guru yang biasa, tapi guru yang mahal."
"Bukankah kau baik dalam matematika?" tanya Dae Sung.
"Aku mengingatnya." kata Eun Jo. "Aku mengingat semua soal dan jawaban. Aku tidak punya dasar." Eun Jo mengeluarkan bukunya dan memperlihatkan pada Dae Sung. "Kau bilang akan memberikan apa yang kubutuhkan."
"Aku mengenal seseorang yang pandai matematika." kata Dae Sung. "Kapan kau mau mulai?"

Hyo Seon memandang Eun Jo. "Kakak, jika kau begini terus, lama kelamaan aku juga akan lelah." katanya.
Eun Jo melihat Hyo Seon namun tidak menjawab.
Tidak lama kemudian, Ki Hoon masuk ke dalam ruangan itu. "Kita bisa mulai sekarang?" tanyanya.
"Aku meminta guru yang kompeten." kata Eun Jo dingin.
"Kak Ki Hoon sangat pintar." kata Hyo Seon.
Hyo Seon malas-malasan belajar. Ia malah keluar dan bersms ria dengan temannya.
Ki Hoon mengajari Eun Jo matematika. Eun Jo meminta Ki Hoon menjelaskan mengenai faktor. Sebelum menjawab, Ki Hoon meminta Eun Jo memanggilnya 'Guru' dan bicara dengan sopan.
Mulanya Eun Jo menolak dan hendak berjalan keluar ruangan, tapi akhirnya ia setuju juga, dengan berat hati.
"Tapi.. apa maksudmu kau tidak punya banyak waktu?" tanya Ki Hoon. "Hmm?"
"Aku mencoba mendapatkan sebanyak mungkin yang bisa didapat." kata Eun Jo. "Kenapa kau benyak sekali bertanya? Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa hidup disini dan bersekolah." Suara Eun Jo makin meninggi. "Aku tidak tahu kapan kami akan diusir atau kapan kami akan melarikan diri. Jadi aku berusaha mendapatkan sebanyak mungkin selama aku disini!"
Hyo Seon berlari-lari masuk ke ruangan. "Ada apa?" tanyanya cemas. "Kakak ada apa?"
Eun Jo berjalan keluar dan membanting pintu.

Hyo Seon cemas dan melapor pada Kang Sook dan ayahnya.
Kang Sook menangis. "Itu mungkin karena teman-temannya mengejeknya." katanya. "Walaupun ia saudara Hyo Seon, tapi nama keluarganya berbeda. Jika saja surat nikah sudah dibuat..."

Eun Jo bersembunyi di tempat penyimpanan arak. Ki Hoon berjalan mendekatinya.
"Kau tidak perlu khawatir. Presiden adalah orang yang paling baik yang pernah kukenal." kata Ki Hoon. "Aku hanya pekerja paruh waktu disini, tapi ia adalah orang yang akan kuikuti dengan segala yang kumiliki."
Ki Hoon duduk disamping Eun Jo.
"Alasan kenapa aku mencoba membuatmu tetap datang kemari bukan karena itu adalah perintah." ujar Ki Hoon. "Melainkan, aku juga menyukaimu. Maafkan aku, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku tidak akan mengurangi waktu belajarmu."

Hyo Seon masih mencari-cari Ki Hoon dan Eun Jo. Di ruang belajar, ia mendengar suara Ki Hoon yang sedang mengajar. Ia masuk ke ruangan dan duduk di samping mereka.
"Ehem." Hyo Seon mencoba mengalihkan perhatian. "Aku juga mau mengerjakan PRku."
"Sebentar, sebentar." ujar Ki Hoon tanpa menoleh, tetap mengajari Eun Jo. "Sudah selesai." katanya.
"Tunggu, tolong ulangi sekali lagi." kata Eun Jo.
Ki Hoon tersenyum. "Baiklah. Perhatikan baik-baik."
Hyo Seon sedih, merasa Ki Hoon mengacuhkannya.

Hyo Seon dan Eun Jo mengerjakan ujian matematika di sekolah.
Ki Hoon bertemu dengan kakaknya, Hong Ki Jung.
"Kenapa harus disini?" tanya Ki Jung. "Kenapa kau harus datang dan tinggal disini?"
"Kenapa aku tidak bisa disini?" tanya Ki Hoon.
"Aku datang bukan untuk berdebat." ujar Ki Jung tajam. "Jangan sombong. Cepat tinggalkan tenpat ini. Surat Kabar Kyung Jae ikut berpartisipasi dalam Kompetisi Editorial Nasional dan mengirim orang untuk mengawasimu. Karena mereka sampah, sepertinya mereka juga bisa menyium sampah. Sudah cukup buruk karena kakek sakit, dan sekarang terjadi keributan mengenai warisan."
"Apa hubungannya semua itu denganku?" tanya Ki Hoon dingin. "Kenapa kau meminta aku pergi?"
"Apa?"
"Apa itu semua ada hubungannya denganku?" tanya Ki Hoon lagi, seraya mendongak dan menatap kakaknya. "Kau mengatakan padaku bahwa itu tidak ada hubungannya denganku dan membuat kontrak untukku agar tidak terlibat. Apa kontrak itu sudah hilang? Perlukah aku menandatangi kontrak itu lagi? Haruskah aku menandatangi kontrak itu dengan darah?!"
"Tutup mulutmu." ujat Ki Jung. "Aku ingin kau menandatangi sesuatu yang lebih rinci. Kontrak yang menyangkut warisan dan kau harus pergi dari sini untuk belajar ke Eropa atau Amerika. Setelah lulus, aku yakin kau bisa menghidupi hidupmu sendiri."
Ki Hoon tersenyum pahit. "Tidak, terima kasih." katanya sinis. "Karena kau menyebutku sampah, maka aku akan hidup seperti sampah."
Ki Hoon kemudian kembali dan bersembunyi di tempat penyimpanan arak. "Hanya kalian yang kumiliki." katanya pada gentong arak. Ia menemukan sebuah pensil. "Ya, aku memilikimu juga."
Ki Hoon pergi ke toko aksesoris untuk membeli penusuk rambut untuk Eun Jo sebagai pengganti pensil yang biasa digunakannya.

Di sekolah, Hyo Seon agak mabuk. Ia marah-marah di kelas, bertanya pada teman-temannya siapa yang berani mengejek Eun Jo karena nama keluarga mereka yang berbeda. Eun Jo menyuruhnya diam.

Dae Sung akhirnya membuatkan surat nikah atau surat keluarga untuk Kang Sook dan Eun Jo. Kang Sook meminta izin ke kamar mandi dan menangis senang diam-diam karena akhirnya ia memiliki sebuah keluarga.
Sampai di rumah, Kang Sook mulai berani memerintah dan memarahi para pekerja.

Eun Jo dan Hyo Seon tiba di rumah.
"Jadi ibu berbohong?" tanyanya Hyo Seon. "Kau tidak pernah mengatakan bahwa kau diejek karena nama keluarga kita berbeda?"
"Itu semua bohong." ujar Eun Jo menanggapi.
Ia masuk ke dalam rumah. Kang Sook menarik Eun Jo untuk bicara, tapi Hyo Seon tiba-tiba menarik Eun Jo.
"Kakak, karena ibu ada disini mari kita perjelas." kata Hyo Seon.
"Kalian sudah pulang?" tanya Dae Sung.
"Bagaimana ujian kalian?" tanya Ki Hoon, menyembunyikan tusuk rambut di belakang punggungnya.
"Lepaskan aku." kata Eun Jo tajam pada Hyo Seon.
"Kakak, ayo kita tanya ibu." Hyo Seon bersikeras.
Eun Jo menghempaskan Hyo Seon dengan kasar hingga Hyo Seon terjatuh ke tanah.
Untuk menjaga image-nya di depan Dae Sung, Kang Sook terpaksa menampar putrinya. "Hyo Seon, kau tidak apa-apa?" tanyanya, membantu Hyo Seon. "Kau tidak terluka?"


source ; http://princess-chocolates.blogspot.com

JANGAN LUPA FOLLOW ya...

sinopsis drama, info music dan film korea

patrarush.blogspot.com