Senin, 03 Mei 2010

SINOPSIS CINDERELLA'S SISTER EPISODE 1

Sinopsis Cinderella's Sister Episode 1


Ketika Song Eun Jo sedang memasak di dapur, terdengar suara seorang wanita berteriak, "Lepaskan aku!"
"Ayolah, Kang Sook." terdengar suara seorang pria menanggapi.
Seakan tidak terjadi apapun, Eun Jo terus memasak. Jung Woo, seorang anak gemuk, menyusulnya ke dapur.
Rupanya ibu Eun Joo, Kang Sook dan pacarnya sedang bertengkar di kamar mereka. Kebiasaan pacar Kang Sook, yang suka memukuli ibunya saat ia sedang mabuk, membuatnya ibunya tidak tahan lagi dan berniat pergi.
"Itu bukan aku yang melakukannya." kata pacar Kang Sook membela diri. "Itu perbuatan alkohol." Pacar Kang Sook berusaha membujuk Kang Sook dengan memeluknya.
"Jauhkan wajahmu dariku!" bentak Kang Sook.
Di dapur, Eun Jo makan sangat banyak. "Aku tidak tahu kapan aku akan makan lagi." katanya pada Jung Woo. "Karena itu sekarang aku akan makan sebanyak yang kubisa, jadi..." Eun Jo menoleh ke arah Jung Woo dengan pandangan tajam. "Jangan ganggu aku!"
"Kau berniat pergi?" tanya adik Jung Woo. "Jika kau pergi, maka mungkin ini akan jadi makanan terakhirku. Tidak akan ada yang memasakjika kau pergi." Ia bergegas mengambil makanan sebanyak mungkin dan memakannya.
Kang Sook dan kekasihnya masih saja ribut dan berteriak-teriak.
"Dengarkan aku baik-baik." kata Jung Woo. "Tidak peduli dimanapun kau berada dan dimanapun kau tinggal, aku akan menemukanmu dan menjagamu sepanjang sisa hidupmu. Percayalah padaku."
Tiba-tiba, Kang Sook berteriak. "Tidak! Eun Jo!"
Eun Jo bergegas berlari ke kamar untuk menyelamatkan ibunya.

Pacar Kang Sook hendak memukuli ibunya dengan tongkat baseball. Eun Jo menjatuhkan pacar ibunya dengan kasar, kemudian mengikat kedua kaki dan tangannya. Jung Woo membuang tongkat baseball tersebut keluar. Di tongkat baseball tersebut tertulis, 'Song Eun Jo adalah kekasih Han Woo Jung'.
Eun Jo mengajak ibunya melarikan diri.
"Kakak! Kemana kau akan pergi?" teriak Jung Woo. "Kakak!"
Eun Jo menarik ibunya agar berlari secepat yang ia bisa.
"Kang Sook!" pacar Kang Sook memanggil ibunya dan berusaha mengejar mereka.
Eun Jo dan Kang Sook menaiki sebuah taksi.
Kang Sook terus-menerus ingin kembali. "Kemana kita akan pergi?" tanyanya. "Kita tidak memiliki uang!"
"Memangnya kita pernah memiliki uang?" tanya Eun Jo. "Paman, antar kami ke stasiun kereta."
Kang Sook meminta supir taksi mengantar mereka kembali, sementara Eun Jo bersikeras meminta supir taksi mengantar mereka ke stasium kereta.
"Bahkan setelah kau dipukuli seperti itu kau tetap ingin kembali padanya?!" teriak Eun Jo.
"Kau tidak tahu apapun, jadi berhenti berteriak padaku!" teriak Kang Sook.
Setelah perdebatan sengit, Eun Jo mengeluarkan sebuah cincin. "Inikah yang ingin kau ambil darinya?" tanya Eun Jo.
Kang Sook senang dan meminta supir taksi mengantar mereka ke stasiun kereta.

Setelah memukuli Jang Woo, pacar Kang Sook mengeledah kamarnya, mencari-cari cincin yang diambil Eun Jo.
"Panggilkan Dae Bong." perintah pacar Kang Sook.
"Dae Song?" tanya Jung Woo. "Apa yang akan kau lakukan dengan gengster itu?"
"Apa kau ingin dipukuli lagi?!"
Jung Woo bergegas pergi ketakutan dan melaksanakan perintahnya.
Beberapa orang berpakaian hitam seperti mafia mencari Eun Jo dan ibunya ke stasiun kereta.
Setelah berganti pakaian, Eun Jo dan Kang Sook duduk di dalam kereta. Jung Woo meneleponnya dan berkata bahwa ia terpaksa menuruti perintah untuk memanggil Dae Bong.
"Aku tidak akan tertangkap." kata Eun Jo. "Jangan khawatir."
Kereta berjalan dengan mulus dan tanpa halangan. Melewati kota demi kota.
Ketika kereta berhenti di sebuah stasiun, Eun Jo melihat beberapa orang berpakaian hitam sedang berjalan di luar. Eun Jo ketakutan dan berusaha membangunkan ibunya yang sedang tidur.
Para pria itu masuk ke dalam kereta.
Dengan perlahan-lahan, Eun Jo melewati ibunya dan berjalan pergi.
"Ibuku memiliki lebih dari sejuta pria." pikirnya dalam hati. "Sebelum dia memberitahu bahwa ayah adalah nomor ke sejuta satu, aku memutuskan untuk meninggalkannya."
Eun Jo ragu sejenak di pintu keluar kereta.
Kereta mulai berjalan kembali. Eun Jo memutuskan untuk membangunkan ibunya dan mengajaknya melarikan diri bersama.
Terjadi kejar-kejaran di dalam kereta. Di akhir gerbong kereta. Eun Jo dan Kang Sook terpaksa bersembunyi di dalam toilet.
Eun Jo bersembunyi di dalam toilet, namun ada seorang gadis, anak sekolahan, yang sedang berada di dalam toilet tersebut.
Gadis itu berteriak. Eun Jo menutup mulutnya.
Eun Jo melirik melihat nama gadis itu di seragam sekolahnya, Goo Hyo Seon.
Di luar, para pria gengster menggedor-gedor pintu.
"Kenapa kau tidak mengangkat teleponmu?" tanya seorang gadis dengan manja. "Aku harus pindah ke sekolah yang lain." Gadis itu bernama Goo Hyo Seon.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan." kata si pria, terus bekerja mengangkat barang. "Tapi jika kau datang kemari pada jam ini, berarti kau membolos dari sekolah." Pria tersebut bernama Hong Ki Hoon.
Hyo Seon menghentikan pekerjaan pria itu. "Gadis itu bilang ia akan datang ke sekolah, tapi aku tidak bisa menemukan cincin. Cincin itu."
Hyo Seon terus menerus mengeluh dan ngedumel masalah cincin.
Hyo Seon adalah seorang gadis yang ceria dan manja.Ia sangat ceroboh dan sering kehilangan barang-barang yang dimilikinya.
"Apakah ada sesuatu yang kau hilangkan untuk selamanya?" tanya Ki Hoon. "Adakah sesuatu yang kau hilangkan, dan tidak bisa menemukannya di rumah?"
Hyo Seon menggeleng. "Tidak ada."
"Lalu apa masalahnya?" tanya Ki Hoon, tertawa seraya memencet hidung Hyo Seon. Ia mengacak-acak rambut Hyo Seon dengan perasaan sayang.
Ki Hoon mengendarai truknya menuju sekolah Hyo Seon untuk mengantarnya. Ketika sampai di depan sekolah, ia memeriksa catatannya.
"Kakak, kau adalah milikku." kata Hyo Seon.
"Apa?" Ki Hoon menatap Hyo Seon.
"Jika kau bilang bulan itu kotak, maka pasti bulan itu kotak." kata Hyo Seon. "Jika kau bilang air laut itu manis dan permen itu asin, maka aku akan memuntahkan permen dan memakan air laut. Karena kau mengatakan bahwa aku akan menemukan cincin itu, maka aku pasti tidak menghilangkannya. Apa aku menghilangkan cincin itu, Kakak?"
"Anak ini... kenapa kau begitu banyak bicara." kata Ki Hoon, tersenyum. "Jika aku dipecat, apa kau mau bertanggung jawab?"
Hyo Seon tidak mengacuhkan perkataan Ki Hoon. "Kau adalah milikku, jadi kau tidak bisa menikahi orang lain.Kau mengerti?"
"Aku tidak akan membuat komitmen dengan seorang gadis bernama Hyo Seon." kata Ki Hoon, tertawa.
Hyo Seon turun dari truk, melambaikan tangan pada Ki Hoon, kemudian berjalan masuk ke sekolah.
Hyo Seon dihukum karena keluar diam-diam dari sekolah. Ketika ia sedang duduk di lorong, Kang Sook berjalan mendekatinya. Ia melihat nama di seragan Hyo Seon. "Jadi kau." katanya.
Hyo Seon mengajak Kang Sook ke rumahnya. Rumahnya cukup jauh, menyusuri danau.
"Apa yang terjadi pada pria-pria jahat itu?" tanya Hyo Seon. "Apakah kau mengirim mereka ke penjara? Ayahku pernah bilang kalau pria yang bersikap jahat pada wanita adalah makhluk paling buruk di dunia ini."
Tiba-tiba dua orang wanita datang untuk menjemput Hyo Seon. Ada suatu hal yang buruk terjadi di tempat kerja.

Ayah Hyo Seon,Goo Dae Sung, memecahkan semua gentong berisi arak dan membuat semua pekerja berlutut ketakutan. Para pekerja sudah berlutut dari pagi sampai sore.
"Hanya karena kau memasukkan beras, air dan kapang ke dalam gentong, maka itu artinya kalian berhasil membuat arah?" kata Dae Sung, memberi pelajaran pada para karyawannya. "Kalian harus melihat apakah prosesnya berjalan dengan baik dan mengatur suhu. Bagaimana kalian bisa membuat ini? Ini bukan arak! Ini adalah air kotor!"
Ki Hoon mencoba menyelamatkan gentong-gentong yang masih bisa diselamatkan.
Mendadak Hyo Seon datang berlari-lari, mencoba menghentikan ayahnya.
"Siapa yang membawa dia kemari?!" teriak Dae Sung.
Hyo Seon berlutut di hadapan ayahnya. "Ayah, mereka sudah lama berlutut dan setengah dari mereka adalah teman ayah."
Hyo Seon menangis, membuat Ayahnya merasa iba dan terdiam. Karena bujukan dan godaan dari Hyo Seon, ayahnya melunak dan berjalan pergi.
Hyo Seon berhasil menyelamatkan para pekerjanya.
Hyo Seon mengantar Kang Sook ke rumahnya. Rumahnya sangat besar hingga Kang Sook terpana dan melongo.
Dengan kelabakan, Hyo Seon mencari-cari cincin yang ia hilangkan di seluruh penjuru rumah.
Ia membuka kotak berisi barang-barang peninggalan ibunya, dan mencium foto ibunya dengan perasaan sayang dan rindu.
Tiba-tiba ia teringat. "Tas sekolahku." gumamnya. "Dimana tasku?"
Terdengar suara teriakan dari luar. Kang Sook tersiram air. Rupanya ia sengaja ingin membuat dirinya tersiram.
Hyo Seon bergegas menolongnya, kemudian mengajaknya masuk ke rumah.
Kang Sook mengenakan pakaian milik ibu Hyo Seon yang sudah meninggal. Hyo Seon menatap Kang Sook dengan mata melotot.
"Ada apa?" tanya Kang Sook, mendadak bicaranya menjadi sangat lembut, tidak seperti biasanya.
"Kau sangat cantik." kata Hyo Seon dengan mata berkaca-kaca, hampir menangis. "Kau kelihatan seperti Hwang Shin Hye. Ibuku juga kelihatan seperti Hwang Shin Hye."
Hyo Seon menangis.
"Ada apa?" tanya Kang Sook. "Apakah aku melakukan kesalahan?"
Hyo Seon menggeleng dengan berlinang air mata. "Kau sangat pantas memakai baju itu."
"Kenapa kau menangis?"
"Aku tidak tahu." jawab Hyo Seon. "Air mataku keluar dengan sendirinya."
Kang Sook memeluk Hyo Seon dan menenangkannya. Hyo Seon menangis, meminta Kang Sook terus membelai rambutnya.

Hyo Seon meminta Kang Sook masuk ke sebuah ruangan. Itu adalah ruangan ayahnya.
Ia bertanya pada pamannya dimana tas sekolahnya yang dulu ia gunakan untuk kemping. Hyo Seon meminta pamannya agar menyembunyikan tasnya dalam-dalam.
Dae Sung terkejut melihat Kang Sook ada di dalam ruangannya. Kang Sook bicara dengan sangat lemah lembut. Ia meminta maaf karena membuat Hyo Seon menerima barang orang yang tidak dikenalnya.
Kang Sook berjalan mendekati Dae Sung.
"Putrimu mengatakan bahwa ia memberikan tas yang berisi barang milikku pada teman yang sangat jauh." kata Kang Sook. "Dia mengatakan akan membutuhkan waktu lama agar temannya kembali. Aku tidak memiliki tempat tinggal. Bisakah kau memberiku pekerjaan disini sambil menunggu barang itu? Aku bisa bekerja di dapur atau semacamnya."
Dae Sung terdiam, menatap Kang Sook tanpa berkedip.

Eun Jo berada di rumah pacar ibunya.
"Jika aku disini, ia tidak mungkin tidak kembali." katanya.
"Apakah ibumu juga mencampakkanmu?" tanya pacar Kang Sook dalam keadaan mabuk.
"Tidak." jawab Eun Jo. "Ia tidak akan melakukannya."
Pacar Kang Sook jatuh pingsan di dalam kamar Eun Jo. Eun Jo berteriak ketakutan memanggil Jung Woo, meminta Jung Woo membawa pacar Kang Sook pergi.
Eun Jo terus-menerus mencoba menghubungi ibunya, namun gagal.

Kang Sook bekerja di rumah Hyo Seon. Hyo Seon sangat menyukainya dan berharap Kang Sook menjadi ibunya.
Di lain pihak, Kang Sook juga mencoba mendekati Hyo Seon dan ayahnya.
Malam itu, Kang Sook datang ke kamar Dae Sung dengan alasan meminta diantar membeli bahan makanan untuk bekal Hyo Seon besok.
Dae Sung setuju. Mereka pergi dengan menggunakan sepeda. Dae Sung menggonceng Kang Sook. Dengan sengaja, Kang Sook menggoda Dae Sung dengan menendangg roda sepeda hingga sepeda oleng dan Kang Sook bisa bepegangan pada Dae Sung.
Hyo Seon menangis. Pamannya telah menyerahkan cincin pada Kang Sook.
Melihat Hyo Seon menangis histeris, Ki Hoon menjadi tidak tega. Ia meminta Dae Sung untuk membawa Kang Sook kembali. Dae Sung tidak menanggapi.
"Aku akan menjemputnya, Presiden." kata Ki Hoon.
"Kau pikir siapa dirimu?!" seru Dae Sung.
"Akhir-akhir ini Hyo Seon sangat bahagia." kata Ki Hoon. "Ia tidak pernah seperti itu sejak berumur 7 tahun."
"Ia pergi tanpa pamit." kata Dae Sung marah. "Kenapa aku harus menjemput orang seperti itu?"
Ki Hoon mengajak Hyo Seon naik sepeda untuk menjemput Kang Sook.

Dae Sung menjemput Kang Sook. Ia meminta Kang Sook tetap tinggal dan membawa putrinya ke rumahnya.
"Apakah aku tinggal hanya demi Hyo Seon?" tanya Kang Sook.
Dae Sung terdiam sesaat kemudian memeluk Kang Sook.

Di rumahnya, Eun Jo memasak banyak makanan dan menyimpannya di kulkas. Setelah itu, ia membereskan barang-barangnya dan pergi.
Jung Woo berusaha menahan Eun Jo, tapi Eun Jo tidak menggubrisnya.
Ketika Eun Jo berjalan keluar dari halaman rumah, paman Hyo Seon datang.
"Apakah kau Song Eun Jo?" tanya paman Hyo Seon. Di belakangnya, Ki Hoon muncul dan tersenyum pada Eun Jo.

Ki Hoon dan Paman Hyo Seon mengajak Eun Jo naik ke mobil. Di tengah jalan, Eun Jo minta ke toilet.
Waktu lama berlalu, tapi Eun Jo tidak juga keluar. Rupanya Eun Jo mencoba melarikan diri. Ki Hoon mengejarnya.
Ki Hoon mencoba meraih Eun Jo, namun gagal. Ia hanya bisa meraih pensil yang menggulung rambut Eun Jo. Rambut Eun Jo yang panjang terurai. Ki Hoon terdiam sejenak, kemudian berlari kembali untuk mengejar.
"Lepaskan aku!" teriak Eun Jo seraya menjambak rambut Ki Hoon.
Ki Hoon kesal dan menjatuhkan Eun Jo di tanah. Ia kelelahan dan berbaring di samping Eun Jo.
"Ibumu mengatakan padaku bahwa kau tidak akan datang dengan sukarela." kata Ki Hoon. "Ia berkata bahwa kau mungkin akan lari, jadi aku bersiap-siap."
Eun Jo diam, bangkit dan duduk.
"Kau punya uang?" tanyanya. "Bukankah sulit hidup tanpa uang? Tapi semuanya akan berubah jika usiamu sudah 20 tahun. Kenapa tidak menunggu sampai usiamu 20, baru pergi melarikan diri?"
Eun Jo terdiam, tidak menjawab. "Ini aneh." katanya dalam hati. "Bahkan jika ia berkata bahwa bulan itu bulat, aku akan mempercayainya. Mungkin aku ada dibawah ilmu sihir."
Sesampainya di rumah Hyo Seon, Eun Jo marah-marah pada ibunya.
"Sampai kapan kita akan tinggal disini sampai mereka mengusir kita?!" teriak Eun Jo.
Kang Sook menyuruhnya diam, tapi Eun Jo tidak peduli dan terus berteriak.
"Sampai kapan kau akan begini?" teriak Eun Jo.
"Dia berbeda." kata Kang Sook
"Lari dari pria yang satu ke pria yang lain?!" teriak Eun Jo. "Apa bedanya? Jangan bergantung pada laki-laki untuk memberi kita makan! Kita akan menemukan cara untuk bertahan hidup!"
Kang Sook memukuli Eun Jo. "Kau pikir untuk siapa aku melakukan ini?!" serunya.
"Jangan bilang ini untukku!" teriak Eun Jo. "Apa kau hidup untukku? Karena itulah kau membuangku?"
"Membuangmu?" tanya Kang Sook. "Kapan aku membuangmu?"
"Kau membawaku ke tempat paman berambut itu sebagai tawanan bukan?" seru Eun Jo. "Apa kau tahu betapa mengerikan berada disana?"
Kang Sook terdiam. "Apakah.. ia.. melakukan sesuatu padamu?"
"Apakah kau tahu bahwa aku sangat takut kalau ia melakukan sesuatu?!" teriak Eun Jo.
Eun Jo berniat pergo, tapi Kang Sook berkata, "Ini untuk yang terakhir. Sekarang aku bisa membuatmu bersekolah di sekolah normal."
"Benarkah?" tanya Eun Jo. "Jika kita diusir lagi, biarkan aku pergi."
Kang Sook setuju.
Kang Sook membawa Eun Jo menemui Dae Sung.
Eun Jo cemberut dan menatap Dae Sung sinis. Suasana di ruangan itu sangat kaku.
"Mulanya aku memiliki seorang putri, tapi sekarang aku memiliki dua." kata Dae Sung, canggung. "Aku ingin melakukan yang terbaik. Jika ada sesuatu yang kau inginkan, aku berjanji..."
"Tidak perlu berjanji." kata Eun Jo dingin. "Aku tidak percaya. Jangan berjanji dan biarkan aku sekolah."
Dae Sung tersenyum dan mengangguk.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar. "Hyo Seon pulang!" teriaknya ceria. Hyo Seon sangat senang melihat Eun Jo. "Kakak, Halo!"
Eun Jo menatap Hyo Seon sinis.




source : http://princess-chocolates.blogspot.com

SINOPSIS CINDERELLA'S SISTER EPISODE 3

Sinopsis Cinderella's Sister Episode 3




"Kenapa harus seperti itu?" tanya Dae Sung.
"Aku tidak suka sikapnya yang dingin pada Hyo Seon." jawab Kang Sook.
"Hyo Seon terlalu mengganggunya." bela Dae Sung.
"Ia juga bersikap seperti itu di depanku." kata Kang Sook. "Aku marah dan berakhir seperti itu."
"Jadi kau seelalu bersikap seperti itu pada anakmu setiap kali kau marah?" tanya Dae Sung. "Itu memalukan. Jangan diulangi."
"Aku takut!" seru Kang Sook. "Orang-orang mungkin berpikir bahwa putriku memperlakukan putrimu dengan buruk. Aku takut bagaimana orang lain akan menilai kami. Jadi aku melakukan itu."
Kang Sook menangis-nangis, membuat Dae Sung melunak. Ia berkata bahwa ia terpaksa menampar putrinya karena takut ada omongan-omongan buruk dari paman Hyo Seon serta para pekerja. Dae Sung berusaha menenangkan, tapi Kang Sook menghindar.

Dae Sung mengumpulkan seluruh para pekerjanya, termasuk paman Hyo Seon.
"Siapa saja yang tidak mengangkap istriku sebagai nyonya disini, maju sekarang juga!" seru Dae Sung. "Aku akan memberi uang ganti rugi setelah kalian pergi dari sini. Maju. SEKARANG JUGA!" Dae Sung memukul kursi dengan kayu.
Tidak ada seorang pun yang maju ataupun bicara. Dae Sung menatap tajam pada Paman Hyo Seon.
Di tempat lain, Kang Sook sedang membersihkan air matanya dan bermake-up.
Setelah kena tampar ibunya, Eun Jo duduk seorang diri di pinggir sungai.
"Dalam hatiku, aku sudah berkemas lebih dari 100 kali." gumam Eun Jo dalam hatinya. "Aku akan pergi ke tempat dimana tidak ada ibu dan Hyo Seon."
Eun Jo bangkit dari duduknya dan berjalan pergi. Ki Hoon menghalangi jalannya dan menahan lengannya, membuat Eun Jo berteriak marah. Eun Jo menghempaskan tangan Ki Hoon hingga tusuk rambut yang dibeli Ki Hoon terjatuh di pasir.
"Mau pergi kemana kau?" teriak Ki Hoon, melihat Eun Jo berjalan pergi dengan cepat. Ia bergegas menuntun sepedanya dan mengejar Eun Jo.
Tiba-tiba Ki Hoon terjatuh dan berteriak kesakitan. Eun Jo menoleh sedikit, kemudian dengan cuek berjalan pergi.
"Huh?" gumam Ki Hoon bingung. "Hei! Seseorang sedang terluka disini! Bagaimana bisa kau pergi begitu saja?"
Tiba-tiba Eun Jo tersandung dan terjatuh. Dengan cepat, ia berdiri dan berjalan lagi,seakan tidak merasakan bahwa kakinya mengeluarkan banyak darah.
"Hei!Itu pasti sakit!" panggil Ki Hoon, menyuruh Eun Jo berhenti.

Ki Hoon mengendarai sepedanya dan berhasil mengejar Eun Jo.
"Lihat lututmu!" seru Ki Hoon cemas. "Lututmu berdarah tapi kau merasa tidak sakit?! Darahnya tidak berhenti! Ini bisa gawat!"
Eun Jo menghempaskan tangan Ki Hoon dan hendak berjalan pergi, tapi kali ini Ko Hoon tidak menyerah.
"Aku memang merasa sakit!" teriak Eun Jo. "Memangnya kenapa kalau sakit?!"

Ki Hoon membawa Eun Jo ke klinik untuk mengobati kakinya yang terluka.
"Kami harus memeriksa tulangnya yang retak." kata dokter. "Lakukan sinar X terlebih dulu."

Hyo Seon memanggil Kang Sook untuk meminta penjelasan.
"Ibu, dari mana kau dengar?" tanya Hyo Seon. "Teman-teman di sekolah tidak pernah menertawakan Kakak. Aku bertanya pada mereka satu per satu. Tapi mereka bilang mereka tidak pernah menertawakan Kakak karena nama keluarga yang berbeda. Kakak juga bilang bahwa tidak ada orang yang pernah menertawakannya. Karena itu aku ingin tahu darimana ibu mendengar semua omong kosong... maksudku, dari mana ibu mendengar semua itu."
Kang Soook membelai rambut Hyo Seon. "Aku pasti salah mendengar." jawabnya. "Lupakan saja kejadian ini. Jangan pernah membicarakannya lagi."
Hyo Seon tersenyum dan mengangguk, kemudian memeluk Kang Sook.
Ki Hoon merasa ngeri melihat kaki Eun Jo dijahit. Namun Eun Jo seperti tidak merasakan apapun.
"Dia pasti punya masalah dengan indera kepekaannya, bukan?" tanya Ki Hoon pada dokter. "Betapapun bodohnya dia, dia tidak akan mengerti, bukan?"
"Apa lagu yang kau nyanyikan saat itu?" tanya Eun Jo pada Ki Hoon ketika mereka berjalan pulang. "Ah, itu lagu dari spanyol."
"Apakah letak Spanyol sangat jauh?" tanya Eun Jo.
"Tentu saja." jawab Ki Hoon. "Butuh 12 jam untuk sampai ke Madrid."
"Jika aku bersembunyi disana, aku yakin tidak akan ada orang yang menemukan aku." pikir Eun Jo dalam hati.
"Jika kau ingin pergi ke Spanyol, kau harus berkunjung ke Barcelona." kata Ki Hoon. "Dan disana ada Gaudi..."
"Apakah bahasa Spanyol sulit dipelajari?" tanya Eun Jo, memotong ucapan Ki Hoon.
"Kenapa kau tidak membiarkan aku menyelesaikan kata-kataku dulu?" omel Ki Hoon. "Kau tidak tahu betapa unik dan menariknya bangunan di Gaudi..."
"Cukup." potong Eun Jo lagi. "Kurangi pelajaran matematikaku satu jam dan gantikan dengan mengajariku bahasa Spanyol. Ajari aku. Tolong ajari aku. Kita akan mulai minggu ini." Eun Jo berjalan pergi meninggalkan Ki Hoon.
"Oi!" panggil Ki Hoon, tapi Eun Jo tidak mau menoleh. "Aku tidak mengerti bahasa Spanyol. Harus bagaimana ini?" gumam Ki Hoon.
Sesampainya di rumah, Eun Jo melihat Hyo Seon dan ibunya sedang tidur bersama setelah menonton televisi. Eun Jo merasa sedih.

Di rumahnya, Ki Hoon berusaha mempelajari bahasa Spanyol. "Kenapa bahasa Spanyol banyak sekali menggunakan 'errrrr'" gumamnya. "Bahasa mereka belibet. Ahhh... bagaimana aku bisa menyelesaikan semua ini? Lebih baik aku belajar huruf alfabetnya dulu."

Keesokkan harinya, Ki Hoon berusaha mengajari Eun Jo bahasa Spanyol. Sebelum memulai, Ki Hoon menjelaskan terlebih dahulu mengenai Spanyol.
"Mana yang lebih jauh?" tanya Eun Jo, memotong kata-kata Ki Hoon. "Amerika utara lebih jauh dibandingkan Spanyol, bukan? Dimana titik terjauhnya?"
"Kenapa kau tidak membiarkan aku menyelesaikan kata-kataku dulu?" tanya Ki Hoon.
"Cukup." kata Eun Jo. "Ayo kita mulai. Aku bisa melihat di peta nanti."
"Kau benar-benar tidak pernah mendengar ucapan orang lain." kata Ki Hoon. "Dimana sopan santunmu?"
"Baik, aku mengerti."
Ki Hoon tersenyum. "Hari ini kita akan belajar huruf alfabet terlebih dulu." katanya.
"Aku sudah belajar huruf alfabet tadi malam." kata Eun Jo. "Lanjut ke bab selanjutnya."
Ki Hoon melongo. Ia menutup bukunya. "Yang terjauh di Amerika selatan ada di Argentina, di sebuah kota bernama Ushuaia."
"Berapa lama bisa mencapai tempat itu? Berapa biaya yang kubutuhkan?" tanya Eun Jo.
"Kau ingin pergi kesana?" tanya Ki Hoon. "Kau ingin pergi ke Ushuaia?"
"Lupakan saja. Ayo kita belajar." kata Eun Jo.
Ki Hoon menjawab pertanyaan Eun Jo, untuk menghindari pelajaran. Karena terdengar keramaian dari luar, Ki Hoon menunda pelajaran mereka sampai besok.

Jung Woo menelepon Eun Jo. Karena Eun Jo tidak mengangkat teleponnya, ia merekam pesan. Ia mengatakan bahwa uang yang diperoleh dari ayahnya mantan pacar Kang Sook sudah habis dan ia berniat mencari Eun Jo dan Kang Sook untuk mendapatkan uang lagi.
Di seberang saluran, Hyo Seon mendengar ada telepon. Tapi karena telepon tersebut sudah mati, ia menyimpan ponsel Eun Jo di sakunya.

Ada pesta di rumah Dae Sung untuk merayakan ulang tahunnya. Kerena tahu Eun Jo tidak menyiapkan hadiah, Hyo Seon menyiapkan sebuah hadiah agar Eun Jo bisa memberikan hadiah tersebut pada Dae Sung. Eun Jo menolak.
"Kakak, ponselmu berdering beberapa waktu yang lalu." kata Hyo Seon. "Sepertinya ada pesan suara."
Dengan kasar, Eun Jo mengambil ponselnya dari tangan Hyo Seon. "Kenapa kau menyentuh barang-barang milikku?" tanyanya marah.
Eun Jo berjalan masuk ke kamar untuk mendengarkan pesan. Hyo Seon mengikutinya.
"Dimana pamanmu?" tanya Eun Jo pada Hyo Seon setelah mendengarkan pesan Jung Woo.
"Paman yang mana?"
"Kakak ibumu!" teriak Eun Jo.
Eun Jo mendatangi paman Hyo Seon. Paman Hyo Seon mengatakan bahwa ia memberikan kartu nama pada mantan pacar Kang Sook. Eun Jo berteriak marah padanya.

Mantan pacar Kang Sook mengintip ke dalam rumah dan melihat Kang Sook sedang bernyanyi bahagia bersama Dae Sung dan teman-temannya.
Eun Jo keluar untuk melihat mantan pacar Kang Sook.
Mantan pacar Kang Sook sedang duduk sedih dibalik dinding pagar.
"Berdiri!" kata Eun Jo, menarik mantan Kang Sook ke suatu tempat. Tiba-tiba Ki Hoon datang. Ia membawa mereka ke ruang penyimpanan arak.
"Aku mencintai ibumu." kata mantan Kang Sook.
"Wanita yang kau jual demi uang?" tanya Eun Jo.
"Jika seseorang memberimu uang yang sangat banyak, kau pasti akan melakukan hal yang sama."
"Jadi kau menginginkan uang?" tanya Eun Jo.
"Aku datang hanya karena ingin melihat ibumu, bukan karena uang."
Tiba-tiba ada suara seseorang dari luar. Mereka mau mengambil arak lagi. Ki Hoon, yang berjaga diluar, menawarkan diri untuk mengantarkan arak itu pada mereka. Ia masuk kemudian menyuruh Eun Jo menyelesaikan percakapannya dengan mantan pacar Kang Sook.
"Kau ingin bertemu dengan wanita itu?" tanya Eun Jo pada mantan pacar Kang Sook. "Yang kau miliki hanyalah rumah bobrok dengan atap bocor. Tubuh yang tidak berguna. Kelakuan yang kasar. Pemabuk. Punya banyak hutang. Tubuh dan pikiranmu benar-benar sia-sia."
"Hentikan."
"Kenapa?!" teriak Eun Jo. "Harga dirimu terluka karena anak seperti aku mencelamu? Kau bahkan tidak punya harga diri!"
"Kubilang hentikan!"
"Beritaku aku! Apa kau punya yang lebih baik dari semua yang kami miliki disini?!" teriak Eun Jo. "Sebelum kau bisa menjawabnya, jangan pernah muncul lagi di hadapan kami. Jika kau tidak muncul lagi, ucapanmu mengenai kau mencintai ibuku... aku akan mempercayainya. Pergi sekarang. Jika tidak, maka kau hanyalah orang yang menginginkan uang." Eun Jo meneteskan air mata.
Mantan pacar Kang Sook bangkit dan berjalan pergi.
Ki Hoon mengantarkan mantan Kang Sook pulang sementara Eun Jo kembali ke dalam rumah. Di sana, ia melihat ibunya dan Hyo Seon bersenang-senang bersama.
Dae Sung melihatnya dan menyuruh Kang Sook menemani Eun Jo.
"Keluar!" perintah Eun Jo pada ibunya. "Aku tidak ingin melihatmu."
Kang Sook memukul kepala putrinya.
"Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Eun Jo. "Kau baik-baik saja tanpaku. Kau tetap bisa makan enak dan tidur nyenyak."
"Untuk siapa aku melakukan ini?! Untuk siapa?!"
"Apa kau tahu bahwa lututku terluka?" tanya Eun Jo. "Kau terlalu sibuk menjaga putri kecil pemilik rumah ini. Lututku sudah diperban selama seminggu dan kau tetap tidak menyadarinya sampai sekarang. Apa? Kau lakukan itu untukku?"
Kang Sook melihat lutut Eun Jo. "Kapan ini terjadi?" tanyanya cemas.
"Rubah." kata Eun Jo. "Jangan sentuh aku. Jangan bicara denganku." Ia berjalan keluar dari kamar.
Di luar, Eun Jo berpapasan dengan Hyo Seon. Hyo Seon mengoceh bahwa ia telah memberikan hadiah pada Dae Sung.
"Aku.. membencimu." ujar Eun Jo tajam. "Kau membenciku juga, bukan?"
"Tidak." jawab Hyo Seon, hampir menangis.
"Mustahil kau menyukaiku." kata Eun Jo. "Tidak ada alasan untukmu menyukaiku."
"Tapi aku menyukaimu." kata Hyo Seon.
"Tidak apa-apa jika kau membenciku. Jangan sia-siakan dengan berpura-pura menyukaiku!" teriak Eun Jo.
Hyo Seon menangis. "Kakak.. tidak." ujarnya menggeleng. "Aku tidak membencimu dan aku juga tidak berpura-pura menyukaimu. Itu benar. Percayalah padaku."
"Tetaplah disana dan berpikir." kata Eun Jo, berjalan pergi. Dae Sung mendengar pembicaraan mereka.

Eun Jo menelepon Jung Woo. Ia mengatakan, jika Ki Hoon sudah mengantarkan mantan Kang Sook pulan, Jung Woo harus meneleponnya.
Jung Woo juga mengatakan di telepon bahwa ia mencintai Eun Jo.

Eun Jo menunggu Ki Hoon pulang di luar gerbang. Sudah larut malam, Ki Hoon tidak juga pulan. Eun Jo kembali ke kamarnya dan tidak tidur sampai pagi. Ki Hoon rupanya tidak pulang ke rumah.
Ki Hoon datang ke rumah ayahnya dan berbincang dengannya.
"Presiden Hong membuka bisnis Penyimpanan Anggur Hong." kata ayah Ki Hoon. "Tapi anak bungsunya bekerja sebagai pekerja di perusahaan anggur kecil lain. Aku yakin surat kabar akan menulis seperti itu."
"Aku akan menandatanginya." kata Ki Hoon. "Janji untuk menyerahkan semua hak warisan."
"Bukan itu maksudku."
"Jika kau menginginkan aku pergi, aku tidak akan mendengarkanmu." kata Ki Hoon. "Bukankah kau yang selalu menganggapku sebagai orang luar dalam keluarga ini? Aku tidak punya hak ataupun kewajiban pada keluarga ini. Kau juga tidak punya hak untuk memerintah aku."
"Lihat pada siapa kau bicara!" terdengar suara seorang wanita. "Jika kau ingin memutus hubunganmu dengan keluarga ini, kau harus pergi ke tempat dimana tidak ada orang yang mengenalmu."
"Masuk ke dalam." perintah Presiden Hong pada wanita itu. Wanita itu menurut dan berjalan pergi.
"Sejak pertama aku menikah dengan putri keluarga Oh Sung, aku menjadi ditekan oleh semua orang, sama sepertimu saat ini." President Hong menjelaskan. "Aku membangun Anggur Hong dan memulai usahaku sendiri. Istriku dan kakakmu mencoba mambeli saham Anggur Hong."
"Aku tidak seharusnya mendengar ini." Ki Hoon bangkit dari duduknya dan berniat pergi.
"Aku membutuhkanmu." kata President Hong.
Ki Hoon berhenti berjalan. "Kau tidak membutuhkan aku." katanya. "Kau kau butuhkan adalah status hukumku, bukan? Saham yang kumiliki bersama ayahku."
"Ki Hoon..."
"Ketika kau berkata kau membutuhkan aku... Untuk satu detik... aku hampir saja percaya." kata Ki Hoon. "Aku berpikir bahwa kau benar-benar membutuhkan aku."

Hyo Seon mencemaskan Ki Hoon. Walaupun tidak mengatakan apa-apa, tapi Eun Jo juga mencemaskannya.
Ki Hoon terduduk sendirian di makam ibunya. Ia berpikir, haruskah ia menyebarkan semua kebenaran di depan publik ataukah ia meminta uang sebagai ganti agar ia tutup mulut?
"Kita harus melakukan sesuatu, bukan?" tanya Ki Hoon. "Ibu, setiap kali kau kembali dari makam para leluhur mereka, kau selalu mengatakan bahwa kau menyukai tempat itu, bukan? Bagaimana jika kita memindahkanmu kesana?" Ki Hoon menangis. "Bagaimana jika kita akhiri saja seperti itu?"

Malam itu, Eun Jo berjalan ke gerbang depan untuk menunggu Ki Hoon. Dilihatnya Ki Hoon sedang bersandar pada dinding pagar.
"Ia kembali." ujar Eun Jo dalam hati. Ia melihat Ki Hoon tersenyum. "Ia tersenyum." pikirnya.
"Eun Jo-ah, kemarilah." panggilnya. Ki Hoon memanggil Eun Jo dengan panggilan akrab.
"Ia memanggiku 'Eun Jo-ah'." pikir Eun Jo, dalam hati merasa sangat senang. Eun Jo terus mengulang-ngulang kata-kata itu dalam hatinya.
Karena Eun Jo tidak mau datang padanya, maka Ki Hoon yang berjalan mendekatinya. "Eun Jo-ah, aku lapar." katanya di telinga Eun Jo, sambil menangis. "Aku lapar."

Eun Jo menyiapkan makanan untuk Ki Hoon, sambil terus mengulang-ngulang dalam hatinya, "Ia memanggilku 'Eun Jo-ah'."
Sampai di kamar Ki Hoon, Ki Hoon sudah tidur. Eun Jo meletakkan makanan di samping Ki Hoon. Dengan takut-takut, Eun Jo hendak melepaskan kaus kaki Ki Hoon. Ki Hoon bergerak sedikit dan Eun Jo langsung kabur.

Keesokkan paginya, Hyo Seon datang ke kamar Ki Hoon dan membangunkannya.
"Kakak." panggilnya. "Kenapa kau tidak makan? Sekarang makanannya sudah dingin. Makanlah."
Ki Hoon tertawa dan langsung makan dengan lahap.
"Kakak." panggil Hyo Seon, Ki Hoon seperti tidak mendengarkannya. "Kakak, siapa aku?"
Ki Hoon diam dan tetap makan.
"Aku tidak kelihatan, ya?" tanya Hyo Seon kesal.

Hyo Seon berjalan ke sekolah bersama Eun Jo. Ia meminta Eun Jo menontonnya menari balet, tapi Eun Jo menolak.
"Tidak apa-apa." kata Hyo Seon. "Dong Soo bilang ia akan datang. Ia sangat baik padaku akhir-akhir ini. Apa ia berubah pikiran? Bahkan saat aku memintanya datang, ia bertanya padaku siapa lagi yang datang."
Hyo Seon diam sejenak, kemudian berkata, "Sebanyak apapun aku berpikir, aku tetap tidak merasa bahwa aku membohongi diriku sendiri. Aku benar-benar menyukaimu. Tapi kau tidak menyukaiku bukan? Tidak apa-apa, kau bisa terus membenciku. Aku akan terus menyukaimu. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia."

Eun Jo-ah, Eun Jo-ah. Kata-kata itu terus terngiang di telinga Eun Jo seharian itu.
Eun Jo pulang ke rumah setelah bersekolah. Di gerbang, ia melihat Dong Soo mengintip-ngintip. Melihat Eun Jo, Dong Soo bergegas kabur dan menjatuhkan sesuatu.
Eun Jo masuk ke rumah dan melihat ibunya sedang bersama Hyo Seon. Ia terus menuju kamar.
Di dalam kamar, Eun Jo melihat sebuah kue berbentuk rumah dan tertulis I Love You.
"Kejutan!" seru Hyo Seon, masuk ke dalam kamar. "Besok, kau sudah bisa pindah ke kamarmu. Malam ini adalah malam terakhir kita berbagi kamar, jadi aku ingin mengucapkan selamat tinggal. Ah, aku akan mengajak Kak Ki Hoon untuk ikut serta. Tunggu sebentar ya."
"Jika kau benar-benar menyukaiku, apa kau bisa memberikan apapun yang kuinginkan?" tanya Eun Jo dingin.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Hyo Seon. "Apapun akan kuberikan."
"Kau bisa menerima apapun yang kuambil darimu?" tanya Eun Jo. "Apapun yang kuambil, kau akan tetap menyukaiku?
Hyo Seon mengangguk.

Eun Jo keluar untuk mengambil barang Dong Soo yang terjatuh. Sebuah bunga. Ia tidak tahu kepada siapa Dong Soo ingin memberikan bunga itu. Ia hanya ingin membuat Hyo Seon marah.
"Ia ingin memberiku bunga ini karena ia ingin berkencan denganku." kata Eun Jo, menunjukkan bunga itu pada Hyo Seon. "Kau bilang, kau akan tetap menyukaiku, bukan?"
Hyo Seon kelihatan sedih, tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Itu tidak mungkin." kata Eun Jo. "Sama dengan ketika kau mengatakan bahwa kau menyukaiku. Kau berbohong pada dirimu sendiri. Sekarang kau tahu?"
"Aku ingin melihat kartunya." Hyo Seon mengambil kartu di dalam buket bunga.
Eun Jo terkejut dan merebut kartu itu.
Hyo Seon menangis dan berjalan keluar. Eun Jo membaca kartu itu. Ternyata bunga itu memang diberikan Dong Soo untuknya. "Gila." gumamnya.
Hyo Seon masuk lagi ke dalam kamar. "Orang miskin." katanya.
"Apa katamu?" tanya Eun Jo.
Hyo Seon berdiri dihadapan Eun Jo. "ORANG MISKIN!" teriaknya.
Eun Jo tersenyum.


SOURCE : http://princess-chocolates.blogspot.com

JANGAN LUPA FOLLOW ya...

sinopsis drama, info music dan film korea

patrarush.blogspot.com