Minggu, 28 Februari 2010

Sinopsis JUMONG Episode 2

Pasukan berkuda telah selesai menggeledah seluruh ruangan yang digunakan oleh Puteri Yooh-wa. Ketua pasukan berkuda bertanya kepada, Yooh-wa, “Apakah dia terluka di lengannya?”, tanya kepala pasukan berkuda itu. Yooh-wa hanya mengangguk, dan tidak terucap satu patah kata pun dari mulutnya, namun raut wajahnya terlihat sangat cemas. “Siapa nama pemuda itu?”, tanya ayahnya. Yooh-wa mengatakan bahwa pemuda itu bernama Lee Gan-sang. Ayahnya memarahinya karena dia tidak memberitahukan keberadaan pemuda itu sebelumnya. “Dia berasal dari mana?”, tanya pemimpin pasukan berkuda. Yoohwa-mengatakan bahwa dia berasal dari sungai Dong Jia. Pemimpin pasukan berkuda yakin bahwa itu adalah Hae Mosu, ayah Yooh-wa mencoba meyakinkan bahwa pria itu bukan lah Hae Mosu. Namun, pemimpin pasukan berkuda itu langsung menarik pedangnya dan mengarahkan ke tubuh ayah Yooh-wa. Beliau tewas, begitu pula dengan pengawalnya. Pemimpin pasukan berkuda memerintahkan untuk membunuh seluruh warga suku tersebut. Yooh-wa yang terikat dan dibawa oleh pasukan berkuda melihat pembantaian suku tersebut, dia menangis dan berteriak-teriak melihat hal itu.

Fajar tiba, desa suku putri Yooh-wa porak-poranda. Mayak tergeletak tidak beraturan, dan api yang berkobar pun sudah padam. Geum-wa dan pasukan Dalmu yang mencari Hae Mosu, melihat hal tersebut. Geum-wa mengendarai kudanya sambil melihat itu semua. Salah satu anggota pasukan Dalmu melaporkan kejadian itu kepada Geum-wa, bahwa itu semua adalah ulah pasukan berkuda. Desa itu di musnahkan karena, mereka terbukti menyembunyikan Hae Mosu. Mendengar hal itu, Geum-wa hanya terdiam, dan melihat pemandangan sekitar dari atas kudanya.

PDVD 017Hae Mosu kelelahan, dan minum air sungai. Tak jauh dari sana, rombongan pedagang sedang berjalan, ketua kelompok pedangan itu memutuskan untuk bermalam disana malam itu. Ketua kelompok itu, melihat Hae Mosu di tepi sungai. Dia menghampiri Hae Masu yang terlihat kelelahan dan minum di tepian sungai itu. Ketua kelompok itu juga melepaskan dahaganya dengan minum air yang sama dengan Hae Mosu, setelah menengaknya dia mengeluarkan suara seperti tidak minum selama beberapa hari. “Apakah kau seorang pengungsi?”, tanya pemimpin kelompok itu. Hae Mosu terdiam sesaat dan memandanginya, “Ya”, kata Hae Mosu. Ketua kelompok pedagang itu adalah Yeon Ta-bal, yang merupakan pemimpin dari suku GyehRuBu dari bangsa JulBoon, dia justru menawarkan Hae Mosu untuk makan bersama kelompoknya.

Perkemahan suku GyehRuBu telah selesai di dirikan. Seorang pelayan Yeon Ta-bal keluar dari tenda utama dan memanggil hae Mosu yang terdiam berdiri diantara kumpulan suku GyehRuBu yang lainnya. Pelayan itu meminta Hae Mosu untuk ikut dengannya, “yah….bahkan para pengangkut barang kami mendapatkan perlakuan yang baik dari ketua kami, tapi ketua sangat baik terutama kepada para pengungsi, kapan pun dia bertemu mereka – Aneh!”, kata pelayan itu. Dia mengatakan bahwa Hae Mosu beruntung. Di dalam tenda ada Yeon Ta-bal, istrinya dan seorang pelayan wanita. “Aku telah membawanya, tuanku”, kata pelayan itu. Yeon ta-bal memintanya untuk duduk sambil melihat istrinya. Mereka saling memperkenalkan diri, Hae Mosu memperkenalkan dirinya dengan nama Lee Gan-sang. Pelayan laki-laki yang tadi memanggil Hae Mosu, masuk lagi, kali ini dia membawa sebuah anggur yang mendekati sempurna. Dia menuangkannya ke gelas Yeon Ta-Bal yang sedang merangkul istrinya. Dia menawarkan anggur itu kepada Hae Mosu, dan menuangkannya. Yeon ta-bal, memotong paha ayam di depannya. Yeon ta-bal bertanya kepada istrinya kenapa dia tidak makan. “Saya kehilangan nafsu makan, mengingat apa yang terjadi dengan Suku Ha-baek.”, kata istrinya. Yeon Ta-bal mencoba menyakinkan istrinya dan membujuknya untuk makan. “Sebenarnya aku menyesal dan ikut prihatin dengan apa yang terjadi dengan pemimpin suku Ha Baek… Tapi, itu berarti saingan kelompok dagang kita berkurang satu!”, Yeon Ta-bal mengatakan itu semua ketika mulutnya masih penuh dengan daging yang dimakannya. Hae Mosu terdiam ketika Yeon Ta-bal mengatakan itu, dia penasaran. Hae Mosu bertanya kepada pelayan yang duduk disampingnya mengenai apa yang telah terjadi dengan suku Habaek. Pelayan itu awalnya menolak itu menjawabnya dengan memalingkan wajahnya dari Hae Mosu, “Para keparat itu… tidak, bagaimana bisa mereka membunuh rakyat…. mereka bahkan bukan tentara?”, pelayan itu menggelengkan kepalanya di akhir bicaranya. “Mereka membunuh seluruh penduduk desa Ha-Baek?”, tanya Hae Mosu dengan penuh rasa penasaran. Mendengar Hae Mosu menanyakan hal itu, Yeon Ta-bal bertanya kepada Hae Mosu, apakah dia mengenai seorang dari suku Ha-Baek? Hae mosu mengiyakan hal itu karena dia pernah tinggal di desa itu ketika dalam perjalanannya. “Mereka bilang, seseorang di desa itu telah menyembunyikan Hae Mosu, dan juga para prajurit berkuda memusnahkan desa itu sebagai sebuah hukuman.”, Yeon ta-bal mengucapkan itu semua sambil mengigit dan mengunyah ayam yang dari tadi ada di hadapannya itu. Hae mosu terdiam mendengar hal itu. Yeon ta-bal melihat ekspresi muka Hae Mosu yang tampak terkaget dan sedikit shok. Dia kembali bertanya kepada pelayan disampingnya mengenai warga yang selamat. “Mereka bilang, anak perempuan pemimpin suku Ha baek, Putri Yooh-wa adalah orang yang menyembunyikian Hae Mosu, jadi mereka membawanya ke kota Hyeon-to-Goon untuk diadili di depan umum.”, kata pelayan itu. Hae Mosu semakin terlihat shock mendengar hal itu, dia terdiam. Yeon ta-bal semakin curiga ketika melihat ekspresi muka Hae Mosu, setelah dia mendengar perkataan pelayannya itu.

PDVD 019Pasukan berkuda membawa puteri Yooh-wa dalam keadaan terikat dan berjalan kaki. Dia terjatuh, karena kelelahan. Salah satu anggota pasukan berkuda menariknya supaya dia bangun. Yooh-wa berjalan dengan tertatih tatih. Sementara itu, Hae Mosu, memikirkan sesuatu di pinggiran sungai berarus tenang, dia mengingat kembali perkataan Yooh-wa yang pernah diucapkannya, “Aku tau suku kami akan musnah. Tapi ketika aku berlari di jalan pegunungan, aku berfikir bahwa “itu” mungkin dia… Jantungku berdebar… aku berharap bahwa orang yang aku selamatkan adalah Hae Mosu.”

Geum-wa mengamati perjalanan pasukan berkuda dari atas bukit. Dia melihat puteri Yooh-wa yang berjalan tertatih-tatih, karena panas dan letih. Geum-wa melihat Yooh-wa, dan mengingatkannya kembali dengan kejadian di kota Hyeon-to-goom yang lalu, dia mengingat kembali perkataan yang di ucapkan oleh Yooh-wa.

Malam itu pasukan berkuda beristirahat dan berkemah di sebuah tanah lapang yang dikeliingi oleh tebing-tebing yang cukup curam. Yooh-wa di jaga oleh dua orang. Geum-wa mengamati situasi dari atas bukit, dan mencoba mencari keberadaan Yooh-wa. Begitu dia menemukannya, dia memberikan tanda kepada pasukan Dalmu. Mereka bersiap untuk membebaskan puteri Yooh-wa, Geum-wa sendiri ikut turun tangan dalam aksi ini. Dia yang membawa dan membebaskan Yooh-wa. Kuda telah disiapkan oleh salah satu Dalmu yang diambil dari salah satu kuda pasukan. Mengetahui hal itu, pasukan berkuda mencoba untuk mengejar mereka, namun karena posisi mereka yang dikelilingi tebing mereka kalah posisi karena, dari atas terdapat pasukan Dalmu yang lainnya menembakkan panah mereka.


source... kreatif web

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

JANGAN LUPA FOLLOW ya...

sinopsis drama, info music dan film korea

patrarush.blogspot.com