Minggu, 28 Februari 2010

Sinopsis JUMONG Episode 5

“Aku melihat Busur Dalmu, aku melihat busur itu bahkan dapat kutarik dengan mudahnya. Tapi begitu ku tarik busur itu. Busur Dalmu itu patah.”, ujar Jumong kepada Ibunya. “Busur suci itu patah?”, Ibunya sedikit terkejut mendengar perkataan Jumong. “Aku ketakutan karenanya, tapi aku lebih takut akan kakak-kakak itu. Aku tidak tersesat. Tapi kakak… meninggalkanku mati. mematahkan busur Dalmu adalah kejahatan serius, tapi bagaimana kukatakan melihat Busur itu di depan kedua kakakku yang menginginkan ku mati. Ibu, apa yang harus aku lakukan?”, Jumong menangis mengatakan itu semua.

Won-bi, Dae-so, dan juga Young-po sedang mendiskusikan masalah kembalinya Jumong itu. Ibunya penasaran kenapa Jumong masih bisa kembali, padahal kemarian mereka berdua mengatakan bahwa Jumong sudah mati. Ibunya mengkhawatirkan penetapan Putera Mahkota kerjaan, mungkin banyak orang beranggapan bahwa Dae-so adalah putera mahkota kerjaan itu, namun hal itu belum di pastikan karena hal itu belum di tetapkan. Young-po gelisah setengah mati di samping kakaknya, Young-po meminta izin kepada adiknya untuk membereskan Jumong. Dae-so tidak menginginkan adiknya itu tergesa-gesa dalam melakukan hal itu, dia sendiri yang akan menghabisi Jumong pada saat yang tepat. Dae-so meminta adiknya itu untuk mengawasi apa yang dilakukan oleh Jumong.

“Aku tidka pernah membesarkanmu secara laki-laki atau pun juga mengajari seni perang, meskipun kau seorang pangeran. Aku juga tidak pernah mengajarimu politik, kau tahu kenapa?”, tanya Selir Yooh-wa kepada Jumong. “Aku Mengerti semua yang kau katakan. Sejak masih kecil, aku melihatmu menderita atas perlakuan Permaisuri. Aku juga melihat kenakalan kedua kakakku, Di tahun-tahun awal itu aku menerimanya sebagai nasib. Jadi aku bertingkah aneh. Aku bersikap aneh sehingga tiap orang menganggapku bodoh dan tidak menaruh perhatian kepadaku. Aku menjalani hidupku tanpa keinginan dan ambisi, dan akan kuteruskan hidupku seperti itu.”, kata jumong. “Kau katakan mengerti diriku, tapi itu belum semua. Sudah nasib kita dihina oleh permaisuri dan anaknya, selama kita hidup dalam bayang-bayang seperti ini, tapi kita tidak boleh hidup seperti ini lagi. Akan kujadikan kau putra mahkota dan menggantikan Raja. Kau harus menjadi putra mahkota!”, kata ibunya dengan serius. Jumong terkejut mendengar perkataan ibunya itu, dia ragu karena bukankah putra mahkota adalah Dae-so. “Itu hanyalah putra tertua saja, putra mahkota sejati, penerus tahta kerajaan harus menerima amanat raja dan ditunjuk melalui sebuah upacara. Kau harus menjadi Raja dan menunaikan tugas mulia, untuk mencapai tujuan tersebut aku menyembunyikan perasaanku.”, ujar selir Yooh-wa. Jumong bertanya kepada ibunya mengenai tugas mulia yang harus dia lakukan. Namun selir Yooh-wa tidak memberitahu dirinya, dia hanya mengatakan bahwa pada saatnya nanti Jumong akan mengetahui hal tersebut. Jumong meninggalkan tempat ibunya itu, dia berjalan di halaman istana dengan langkah kecil-kecil dia teringat dengan perkataan ibunya tadi.

PDVD 107Selir Yooh-wa sedang merencanakan pelatihan untuk anaknya itu, dia bersama dengan pembantunya sedang mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk membantu melatih anaknya. Dia memintanya supaya orang istana tidak ada yang mengetahui nya. Pagi harinya Selir Yooh-wa, Jumong, berserta seorang pembantunya pergi ke sebuah perbukitan mereka berencana untuk bertemu dengan saudara pembantu mereka itu. Dia adalah seorang kapten penjara bernama Mu-song, Selir Yooh-wa memutuskan untuk menjadikannya orang yang akan melatih Jumong. Setelah menyelesaikan urusannya dengannya, Selir Yooh-wa mengajak pembantunya itu untuk kembali ke istana, namun dia meminta izin sebentar untuk berbicara dengan saudaranya itu. Dia menyampaikan kepada musong untuk melakukan hal ini dengan baik-baik, mengajari Jumong dengan benar. Mungkin dengan mengajari Jumong dia dapat mengubah nasibnya pada masa yang akan datang. Mu-song bertanya kepada saudaranya itu mengenai identitas Jumong, dia mengatakan bahwa Jumong adalah anak dari kepala rumah tangga istana. Mu-song berbicara kepada Jumong mengenai syarat dan kondisi untuk berlatih dengannya, bahwa walau pun Jumong adalah anak seorang petinggi kerajaan namun dia harus menganggapnya seorang Guru. Jumong bersedia melakukan hal itu, karena hal itu sesuai dengan keinginannya dan ibunya yaitu melakukan latihan secara rahasia. Jumong menyebut dirinya bernama Chu-mo.

PDVD 113Sebagai sebuah permulaan dalam latihan itu, Mu-song meminta Jumong untuk mendaki salah satu puncak pegunungan di sekitar mereka. Jumong melaksanakan perintah Mu-song itu tanpa sebuah bantahan pun. Dia berusaha keras untuk mendaki puncak gunung itu, jalan berbatu, batuan terjal dan berbagai medan lainnya dia lewati. Saat Jumong tiba di puncak itu dia sangat puas, dia mengungkapkannya dengan sebuah teriakan kemenangan.

Saat kembali ke istana, Jumong bertemu dengan pembantu ibunya yang juga merupakan saudara Mu-song. Jumong menanyakan tentang kehebatan Mu-song, Jumong kurang mempercayai kemampuannya. Jumong menganggap Mu-song sebagai seorang yang bodoh dan hanya hobi minum. Saudara Mu-song itu berkata bahwa walau pun Mu-song berkelakuan seperti itu, namun dia memang mempunyai kemampuan seni perang, dulunya dia adalah seorang pasukan khusus. Saat Jumong selesai berbicara dengan saudara Mu-song itu, dia mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka.

PDVD 117Mu-song sedang tertidur lelap saat Jumong datang. Jumong memanggilnya dengan suara pelan, namun Mu-song tidak bangun. Jumong berlutut untuk mendekatkan dirinya dengan Mu-song, kali ini dia berteriak. Mu-song bangun dari tidurnya, Jumong bertanya apa yang harus dilakukannya hari ini. Mu-song dengan malasnya hanya menyuruh Jumong untuk mendaki gunung yang kemarin dia daki namun dengan pelan-pelan. Mu-song kembali tidur lagi, mendengar hal itu Jumong tentu saja emosi, dia mengambil tempat arak yang ada disamping Mu-song dan membantingnya ke sebelah Mu-song. Mu-song terbangun dari tidurnya itu dan berkata bahwa Jumong tidak menepati Janjinya kemarin bahwa dia akan melakukan apa pun yang dikatakan Mu-song. Jumong menanyakannya kapan akan mengajarinya seni perang dan juga dia meragukan kemampuan Mu-song itu. Mendengar perkataan Jumong itu tentu saja dia tersinggung. Mu-song menyuruh Jumong untuk mengikutinya. Mu-song membawanya kesuatu tempat, ketika tiba ditempat itu dua penjaga gerbang sedang tertidur. Jumong bertanya tempat apa itu, Mu-song mengatakan bahwa tempat itu adalah sebuah penjara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

JANGAN LUPA FOLLOW ya...

sinopsis drama, info music dan film korea

patrarush.blogspot.com